30 Hari Melintasi Benua Australia

Dilihat 463 kali

Petualangan besar seringkali tersusun dari ratusan permasalahan kecil, dan ketika menyadarinya, kami sudah berada ribuan kilometer di tengah pedalaman benua Australia. Saat itu sudah dua minggu kami berkendara meninggalkan Perth di pesisir barat Australia menuju Melbourne yang terletak di sudut tenggara. Suasana di luar sangat berbeda dengan Esperance dan kota-kota lain yang telah tertinggal ratusan bahkan ribuan kilometer di belakang. Tidak terlihat lagi kumpulan pohon eukaliptus tua yang menebar keteduhan serta aroma menenangkan, atau laut biru dan pantai berpasir putih bersih tempat kanguru jinak menemani santap siang kami dua hari lalu. Pohon hijau berubah menjadi kering kecokelatan berseling spinifex dan semak-semak belukar. Tanah merah terlihat mendominasi sambil menebar kepulan debu. 30-Hari-Melintasi-Benua-Australia-1 Kami telah sampai di Nullarbor, sebuah area datar dan tandus seluas 200.000 km2 di selatan Gurun Victoria Besar. Sudah berjam-jam kami berkendara tapi pemandangan itu masih tetap sama. Kekosongan menyelimuti kami. Mobil yang tidak dilengkapi pendingin sementara suhu udara yang dengan ganas berada di titik 450 C mengakibatkan ketidaksabaran keempat pejalan yang berada di dalamnya. Kami bertemu dua minggu lalu di Perth karena sebuah iklan yang saya pasang di sebuah website pencari tumpangan dan rekan seperjalanan. Kondisi negara yang luas dan mahal menyebabkan ride share menjadi pilihan favorit para backpacker mancanegara yang datang untuk menjelajahi Australia. Kami memang tidak saling mengenal sebelumnya, tetapi gairah petualangan membuat kami berempat sepakat untuk berkendara selama 30 hari lamanya. 30-Hari-Melintasi-Benua-Australia-3 2.500 km pertama dilalui secara santai dan spontan tanpa rencana. Dari meniti jembatan Busselton yang konon katanya merupakan jembatan kayu terpanjang di selatan khatulistiwa, wine tasting di Margaret River, memanjat pohon eukaliptus raksasa, menjelajah titik patahan benua Antartika, hingga mendaki gunung batu Frenchman’s Peak di Esperance. Kami hidup secara sederhana dengan mendirikan tenda di rest area pinggir jalan, hutan, halaman taman kanak-kanak, atau jika beruntung, beberapa meter dari bibir pantai. Pertemuan dengan sinyal telekomunikasi, listrik dan kamar mandi bisa dihitung dengan jari dibandingkan perjumpaan dengan kelinci, wallaby, kanguru, dan jutaan bintang yang menyemarakkan malam. 30-Hari-Melintasi-Benua-Australia-5 Semakin lama berkendara ke tengah Australia kondisi alam semakin gersang dan berbahaya. Kami seperti diingatkan bahwa benua ini merupakan habitat beragam binatang mematikan seperti ular, kalajengking, dan binatang beracun lainnya. Sebelum mencapai Nullarbor, kami berjumpa dengan sepasang backpacker yang datang dari arah berlawanan. Mereka memberi nasihat praktis seperti: “Jangan sampai membuka mulut jika melihat serangga seperti lebah berwarna kuning. Binatang itu mungkin akan mati setelah menyengat, tetapi begitu juga dengan kalian.” “Hati-hati jika memasang tenda atau buang air di balik semak-semak, pastikan tidak ada kerajaan semut atau sarang ular di sana.” “Tutup tenda rapat-rapat ketika malam tiba. Selain suhu udara yang turun drastis, di gurun sering berkeliaran anjing liar dingo yang tidak ragu mengoyak daging manusia. Apa pun yang kalian dengar di luar sana, JANGAN buka tenda.” 30-Hari-Melintasi-Benua-Australia-4 Berbekal nasihat tersebut, kami melewati malam pertama di gurun dengan ketakutan berlebihan. Saat itu kami berkemah sekitar 50 km setelah Cocklebiddy roadhouse. Tidak ada pejalan lain yang bermalam di rest area tepi jalan tersebut. Kami tidur lebih cepat tanpa membereskan sisa makanan karena malam. Sebuah kesalahan pemula. 30-Hari-Melintasi-Benua-Australia-8 Satu jam setelah kami terlelap, terdengar suara geraman. Seketika saya terjaga. Suasanya hening membuat langkah kaki binatang tersebut terdengar jelas saat ia mengendap dan melompat ke atas meja. Lalu menggeram lagi. Dingo! Ketegangan melanda. Terdengar suara piring tergeser dan gelas plastik terjatuh di atas meja. Ada apa di luar sana? Rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutan. Ketika mengintip dari celah tenda, nampak seekor rubah mengendus-endus sisa makanan di atas meja. 30-Hari-Melintasi-Benua-Australia-9 Setelah merasa lega bahwa ketakutan terhadap dingo terlalu berlebihan, keesokan paginya kami menjumpai seekor anak kalajengking berada di bawah lipatan tenda. Badannya memang tidak sebesar kalajengking dewasa, tetapi bukankah kalau menggigit efeknya sama saja? Kalau ada anaknya, berarti di sekitar sini ada ibunya juga, dong? Kami bergerak cepat. Semua lipatan tenda digeledah. Sepatu, peralatan makan dan semua barang yang terletak di luar tadi malam juga diperiksa untuk mengetahui keberadaan sang ibu agar binatang mematikan itu tidak balas dendam akan kematian anaknya. Namun, kami tidak berhasil menemukannya. 30-Hari-Melintasi-Benua-Australia-2 Bukan hanya berbahaya, suhu Nullarbor di puncak musim panas saat itu juga luar biasa teriknya. Mobil yang tak berpendingin ketika suhu mencapai 450 C membuat kondisi badan melemah sementara emosi terus meninggi. Terjebak di dalam sebuah mobil selama berhari-hari lbisa dengan mudah menyulut pertengkaran dan menghilangkan toleransi antar sesama rekan seperjalanan. Dimulai dari hal kecil seperti perbedaan pilihan makan malam, jenis musik yang diputar, lokasi tempat bermalam, hingga perdebatan penting mengenai waktu dan jalur yang harus dilewati. Puncaknya adalah ketika border control di perbatasan Western Australia dan South Australia memaksa kami untuk membuang seluruh persediaan bahan makanan yang terbuat buah dan sayuran. Pada saat memasuki negara bagian Victoria, sudah tidak ada yang tertarik untuk berbicara. 30-Hari-Melintasi-Benua-Australia-6 Untungnya kami menemukan sebuah tempat berkemah tepi pantai di kawasan Great Ocean Road di mana setiap orang bisa mengisi ulang energi yang hilang. Suasananya tenang karena lokasinya yang tersembunyi dari jalan utama. Setiap sudut ditumbuhi pohon eukaliptus dengan puluhan koala tinggal di atasnya. Jika tidak sedang membaca atau menyendiri di pantai, kami bisa duduk berbagi cerita dengan backpacker lain dari berbagai negara yang juga tengah berkemah di sana. Di tempat ini kami seperti menemukan diri kami kembali. Kami tiba di Melbourne tepat di hari ke-30.  Di sana kami berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing. Seperti bunga dandelion yang pecah berpencar tertiup angin, perjalanan setiap pejalan terasa begitu dinamis. Dari yang seharusnya berjalan sendiri menjadi sebuah kelompok yang harmoni, kemudian berpencar kembali. 30-Hari-Melintasi-Benua-Australia-10 Road trip memang memberi keleluasaan untuk menjelajah dan menemukan tempat-tempat indah, tetapi juga mengungkap sisi brutal dari sebuah perjalanan. Namun, road trip juga memaksa setiap orang melepaskan ego, mempercayai orang asing, dan kehilangan semua kenyamanan yang terasa familiar. Itulah yang membuat sebuah perjalanan menjadi berkesan.