Bertemu Para Manusia Laut Wakatobi

Dilihat 1012 kali

Saya naik sampan kecil bermesin untuk menyebrang ke salah satu perkampungan Bajo di Kaledupa. Laut nampak tenang, tak banyak awan terlihat, di kejauhan terlihat rumah panggung yang tiang penyangga kayunya menancap ke dasar laut.

Inilah salah satu tempat tinggal masyarakat Bajo. Mereka tak lagi berpindah-pindah tempat di lautan — menjadi sea nomadic seperti dahulu. Saat ini, atas himbauan pemerintah mereka sudah menetap di perkampungan yang tersebar di area Wakatobi.

Di Kaledupa — salah satu pulau di Wakatobi, mereka membangun kampung sendiri di tengah laut. Mendirikan fondasi dari batu karang, dan membuat rumah panggung di atasnya. Beberapa langsung mendirikan tanpa fondasi, langsung di tancapkan ke dasar laut.

Wakatobi

Suku bajo adalah orang laut sejati. Sejak lahir mereka sudah hidup dengan laut. Mereka penyelam tradisional ulung. Memanah ikan di dalam laut atau lebih dikenal dengan spearfishing adalah keahlian mereka.

Mereka berburu ikan dengan menyelam bebas. Tanpa tabung udara. Di dasar laut, mereka berjalan  seolah-olah sedang berburu di darat.

“Ada orang kami yang bisa menyelam sampai 25 menit,” kata seorang warga bajo ketika saya berbincang di dermaga.

Entah benar atau tidak, karena rekor free diving dunia dalam menahan nafas saja hanya 20 menit. Tapi, in suku bajo, bung! Laut adalah bagian dari mereka, jadi mungkin saja itu benar! Anak-anak suku bajo telah akrab dengan laut sejak kecil. Bahkan, beberapa hari setelah lahir, mereka akan dimandikan air laut.

Laut Wakatobi

Sejatinya, bangsa Indonesia pada zaman dahulu adalah bangsa maritim. Berjaya di lautan. Siapa tak kenal dengan kemampuan maritim suku Bugis mengarungi lautan dengan phinisi-nya? Siapa tak kenal armada laut kerjaan Sriwijaya yang melegenda? Disebut-sebut armada tersebut berisi orang-orang dari suku bajo, sang pengelana laut sejati.

Siang itu, saya merapat di dermaga Desa Sampela. Salah satu kampung bajo yang paling tradisional dibandingkan kampung lainnya. Rumah disini masih rumah panggung kayu, tidak seperti kampung bajo lainnya yang terlihat sudah menggunakan beton dan seng sebagai atap.

Saya melihat deretan perkampungan suku bajo ini. Anak-anak bermain sampan, ada pula yang bermain air, dan ada yang bermain futsal di lapangan panggung kayu! Saya juga melihat sekolah dan masjid sudah berdiri di kampung ini. Warga Bajo mayoritas muslim, walaupun masih kental dengan nuansa kepercayaan terhadap arwah leluhur dan sejenisnya.

Laut Wakatobi

Wakatobi merupakan salah satu daerah yang termasuk segitiga coral dunia. Barisan terumbu karang Wakatobi merupakan terpanjang kedua di dunia setetelah Great Barrier Reef di Australia. Dan, yang lebih heboh, 750 dari 850 jenis terumbu karang dunia ada di Wakatobi! Jika pemerintah serius, dari sektor pariwisata bahari saja Wakatobi sudah bisa menjadi destinasi kelas dunia.

Pengetahuan suku bajo tentang laut sangat luas, mereka bahkan tahu jenis ikan dengan hanya melihat dari atas sampan.

“Kami hanya ambil ikan secukupnya, tidak pernah kami gunakan bom atau bahan berbahaya lainnya,” kata seorang nelayan bajo.

Ia mengatakan yang menggunakan cara-cara tidak sehat dalam menangkap ikan biasanya bukan orang bajo. Orang bajo hidup dari laut, mereka tahu cara memperlakukan sumber kehidupan mereka.

Laut Wakatobi

Malam bertabur bintang, kami membakar ikan hasil tangkapan kami bersama Labuka, seorang master silat bajo yang ikut menyuluh ikan bersama kami. Di bawah taburan bintang dan suara angin laut, ia bernyanyi sebuah lagu Bajo yang sangat menggetarkan hati kami. Walaupun kami tidak tahu apa arti lagu itu.

Saya sangat tekesima dengan kekayaan alam Wakatobi dan berharap suatu saat masyarakat disini bisa sejahtera. Sehingga saya bisa menyelam menikmati taman laut Wakatobi yang cantik jelita ini dengan hati yang lebih tenang.

Laut Wakatobi

Keputusan pemerintah yang agak ‘memaksa’ suku bajo untuk kembali ke darat agaknya kurang memperhatikan suku bajo. Mereka adalah orang laut, bangsa laut. Lahir, hidup, dan makan dari kekayaan laut. ‘Mendaratkan’ mereka justru akan mempersulit gerak mereka dalam kehidupan.

Mereka memang terlihat terpinggirkan Namun, mereka percaya, selama mereka menghormati lautan, maka kekayaan laut akan terus mencukupkannya.