Petualangan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Dilihat 1164 kali

 

Di pasar Rengat, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu di Provinsi Riau, seorang pedagang durian menawarkan durian sekepalan tangan. Awalnya saya pikir durian muda, setelah dibuka bau harum menyengat hidung, dan setelah dagingnya sampai di lidah, rasa manis, sedikit pahit alkoholik dan legit mulai terasa.

Teks & Foto: Bernard T. Wahyu Wiryanta

“Sepuluh ribu tiga biji, tidak manis jangan dibayar.” Si pedagang itu menawarkan. Dan ternyata 3 buah durian yang kemudian saya tau namanya Durian Terong ini ludes, saya makan sendirian. Pedagang durian tadi tau, saya masih penasaran.

Tanpa izin saya kemudian dia membuka lagi durian besar berkulit hijau “Nah ini durian tembaga, dalamnya oranye.”. Saya menunggu pedagang ini selesai membuka durian, satu juring terbuka dan menampakkan daging buah durian berwarna kuning cerah, bau khas durian menyengat. Saya menghabiskan durian tembaga ini, pedagang tadi mengambil satu buah durian lagi, dengan kulit cokelat kekuningan dan membukanya. Tampak daging buah berwarna krem, berdaging tebal, dengan bau harum. Saya hanya menghabiskan satu juring dan segera cuci tangan.

DSC_0400

Tapi pesta durian belum boleh disudahi, jadi saya menanyakan asal durian-durian lezat ini. Pedagang durian ini memberitau sebuah desa di pinggiran Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Jadi kesanalah saya keesokan harinya.

Pagi hari dengan diantar seorang teman saya sudah sampai di Pasar Siberida. Dari sini kemudian saya menyewa mobil untuk ke Desa Rantau Langsat, desa terakhir atau desa penyangga di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Kami berkendara hampir selama 45 menit melewati jalanan tanah sebelum akhirnya berhenti di rumah Moch Nasir, kepala desa Rantau Langsat. Bau harum durian sudah menyebar. Pak Kades kemudian menyiapkan 2 porter yang juga sebagai guide buat saya. Porter saya berbelanja logistik untuk dua malam. Kami diberitahu hutan-hutan disekitar situ yang penuh dengan durian. Hari pertama, saya disarankan untuk menginap di dekat air terjun dulu, memang tidak ada pohon durian, tapi saya harus melihat hutannya kata Pak Kades promosi.

Segera saja kami beriringan menyusuri jalanan keluar dari desa dan menuju hutan. Kami menyeberangi jembatan yang membelah Sungai Gangsal. Di aliran sungai dibawah kami beberapa perahu lewat, dan diantaranya membawa puluhan buah durian. Selanjutnya kami menyusuri jalanan di padang terbuka yang penuh dengan pakis resam (Glichenia linearis). Suasananya agak lembab, jadi saya curiga dan masuk ke beberapa semak resam ini. Benar saja, di beberapa sudut kemudian saya menemukan Nepenthes mirabillis, salah satu spesies kantong semar. Di beberapa semak lain, saya juga menemukan spesies anggrek terestrial, Spathoglotis yang sedang mekar bunganya.

Sementara saya masih asyik memotret Spathoglotis dan Nepenthes mirabillis dari dalam hutan datang dua orang penduduk yang memikul masing-masing dua ikat petai. Rupanya di hutan sedang panen raya. Jadi kami menukar beberapa lembar uang kertas pecahan sepuluh ribu dengan 20 keris buah petai. Tadi kami sudah berbelanja beras, telur, kopi, ikan asin, bawang merah, bawang putih, dan cabai serta terasi. Jadi lengkap sudah menu makan malam kami nanti. Kami kembali menyusuri jalanan dan masuk ke hutan karet sebelum akhirnya memasuki hutan hujan tropis di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Kira-kira kami menempuh jarak 4,5 km sebelum akhirnya kami sampai di aliran sungai, tepat dibawah air terjun kecil berair jernih.

Di pinggiran aliran sungai, dalamjarak aman di ketinggian, di sebelah pohon tumbang kemudian kami mengeluarkan terpal dan mmebuat bivak sederhana. Didekatnya ada beberapa pohon yang bisa saya pakai untuk menggantung hammock. Hari sudah sore, matahari perlahan tenggelam, maka kami segera membuat api dari ranting kering yang kami kumpulkan. Dua porter kami menyiangi petai dan bumbu, salah satu api sedang memanasi periuk tempat kami memasak nasi. Api di sebelahnya, sedikit berasap-membantu kami mengusir nyamuk-kami pergunakan untuk menjerang air untuk menyeduh kopi. Bunyi suara air terjun dan aliran sungai bercampur dengan suara katak serta serangga malam menamani makan malam kami dengan menu nasi liwet, telur dadar, dan sambal petai dengan potongan ikan gabus asin. Makan malam kami tutup dengan menyeruput kopi dan melakukan ritual melinting tembakau. Salah satu porter kami mencampur tembakau lintingannya dengan kemenyan.

DSC_0553

Kami beristirahat malam hari ini sambil bertukar cerita penjelajahan. Porter kami kemudian menceritakan tentang pertemuannya dengan orang pendek di hutan kawasan TNBT. Saya tidak ada waktu lama kali ini, jadi mungkin tahun depan saya akan menjelajah kawasan ini lagi untuk berinteraksi dengan orang pendek yang misterius ini.

DSC_0532

Menjelang tengah malam, saya mencoba menyibak hutan untuk berburu katak dengan kamera. Suaranya melengking tinggi, tapi kami kesulitan menemukannya. Di dekat tempat kami membuat bivak akhirnya beberapa ekor menampakkan diri dan berhasil kami jerat kedalam memory Nikon D2Xs kami dengan bantuan cahaya senter.

Sejak datang dan membuat bivak tadi saya lupa melihat isi air terjun dan aliran sungainya. Maka setelah mendapat katak saya turun ke aliran sungai dan mendapati banyak udang di dalamnya. Udang-udang kecil ini-ada juga yang sebesar jari telunjuk-sangat jinak. Bukannya menjauh tapi malah mendekati tangan yang kami celupkan ke air. Jadi mudah saja kami mencari tambahan lauk untuk esok hari sarapan.

Tengah malam, gerimis turun membasahi hutan, dan memaksa saya menggulung hammock untuk pindah kedalam bivak yang kami buat dari terpal. Bau humus basah dan aroma daun-daunan lembab tercium ketika puluhan burung kicauan membangunkan kami di pagi hari. Setelahnya, uap caphuccino yang dibuat porter kami memaksa saya untuk bangun dan keluar, bergabung dalam perapian. Kami sarapan, mandi di air terjun dan kembali melanjutkan perjalanan sambil memotret hidupan liar yang kami temui sepanjang perjalanan.

Kami berjalan menyusuri jalan kemaren yang kami lalui. Hanya saja ketika bertemu Sungai Gangsal, kami tidak menyeberang, tetapi berbelok ke kanan menyusuri pinggiran aliran sungainya. Kami berhenti di sebuah pondok dari bambu yang berada di antara pohon durian, buah terap, matoa dan beberapa tanaman lain yang menjadi sumber makanan primata. Pak Nasir sudah memberi izin kami untuk menginap disini. Jadi semua buah durian yang malam ini jatuh, akan menjadi hak kami dan bebas kami santap. Saya memperhatikan ratusan buah durian yang masih menempel di batangnya itu. Pohonnya menjulang sangat tinggi, dengan diameter batang bagian bawah lebih dari satu meter. Beberapa dari mereka, malam nanti akan jatuh dan daging buahnya akan saya nikmati kelezatannya.

Pondok

Sambi menunggu sore kami kemudian berburu makanan di sepanjang aliran sungai. Kami memetik pucuk pakis, memancing ikan dan mencari keong. Kami mendapat beberapa ekor ikan baung, juga beberapa genggam keong dan satu ikat pucuk pakis segar. Baru saja kami sampai di pondok tempat kami menginap, gerimis tiba-tiba turun. Beberapa ekor lutung berlompatan, kemudian diikuti oleh surili, dan terakhir beberapa simpai melompat dan memanen buah matoa di seberang pondok. Maka saya segera mengeluarkan kamera dengan lensa tele 400 mm untuk mengabadikan keluarga primata ini.

Sebelum magrib, kami kedatangan tamu, Pak Kades dan Bu Kades. Sambil duduk mengobrol, saya melihat Bu Kades mengeluarkan bungkusan tembakau dengan kemenyan, melinting dengan kertas sigaret, dan menghisapnya dengan nikmat. Ternyata tembakau dan kemenyan yang kami beli untuk “upeti” kepada Pak Kades disita dan dinikmati oleh istrinya. Pak Kades tidak merokok. Selebihnya Bu Kades meminta hasi buruan kami tadi sore, dan sibuk di dapur mengolah tumis pucuk pakis dengan campuran ikan baung dan keong Sungai Gangsal. Makan malam kami sudah beres.

DSC_0922

Malam hari, sampai jam 9 malam tidak ada juga Durio zibethinus yang jatuh. Beberapa kali suara “bluk” yang terdengar ternyata buah terap yang jatuh, bukan durian. Maka Arlis, salah satu porter kami meminjam lampu dan berjalan ke tengah hutan. Dua puluh menit kemudian Arlis datang, tersenyum sambil menenteng buah durian besar. Dengan golok, Arlis membuka buah durian yang berisi 6 juring ini. Daging buahnya tebal, berwarna krem, lembut dengan sedikit serat, berasa manis dan pahit alkoholik. Dua porter kami, tidak mau ikut menikmati rejeki ini “kami banyak durian disini, biar Bapak saja yang makan, kasihan di Jakarta durian mahal.” Malamnya Arlis dan Muhendra sekali lagi memungut durian, dan kami pesta.

Pagi hari setelah sarapan, Pak kades menjemput kami dengan perahu boat nya. Kami menyusuri Sungai Gangsal menuju ke hulu, ke arah dusun Bengayauan, salah satu dusun yang dihuni oleh suku Talang Mamak. Kami menyusuri sungai dan harus melewati beberapa jeram, sungai sedang banjir dan airnya kotor. Di sisi kanan dan kiri sungai Gangsal hutan masih rapat. Beberapa burung beterbangan, juga puluhan primata berteriak menyambut kami. Pondok-pondok kayu penjaga durian juga banyak dibangun. Ribuan pohon durian menyebarkan aroma buahnya yang matang.

Kira-kira 45 menit kami menikmati panorama Sungai Gangsal sebelum akhirnya perahu berhenti di sebuah dermaga kecil dari bambu, di pinggir sungai. “Dusun Bengayauan” Kata Pak Kades-Nahkoda kami. Hanya berjarak kurang dari 100 m dari pinggiran Sungai Gangsal, kami sudah menemui perkampungan kecil yang dihuni Suku Talang Mamak. Beberapa rumah terbuat dari tiang dan kulit kayu. Dan rata-rata di bawah kolong rumah menumpuk puluhan buah durian. Sekedar makan satu buah durian, disini tidak perlu membayar.

Jadi di dusun ini kami berburu durian tidak dengan menengok ke atas ke dahan-dahan pohon durian, tapi di kolong-kolong rumah panggung warga. Lagi-lagi kami ditawari durian tembaga, juga beberapa jenis durian lain yang rasanya tetap saja manis, pahit alkoholik, dan berdaging tebal. Tidak ada durian muda disini, semua merupakan durian jatuhan. Durian yang sudah menginap beberapa hari rasanya lebih nikmat dibanding yang baru jatuh terlepas dari tangkainya.

Setelah kenyang durian Pak Kades kemudian mengantar kami berkeliling kampung. Di salah satu rumah penduduk suku Talang Mamak kami mendapati mereka sedang menganyam rotan, membuat keranjang dan kerajinan lain. Saya masuk ke salah satu rumah, juga melihat dapurnya. Di dinding say amenemukan kacamata dari kayu dan mata tombak serta tali rotan. Rupanya mereka biasa menyelam dan menombak ikan sambil menyelam.Tapi sayang, sungai gangsal sedang keruh, jadi saya tidak bisa melihat atraksi mereka. Tapi mereka mengundang saya, pada musim kemarau, ketika air jernih untuk datang lagi, dan mereka akan mengajari saya menyelam dan menombak ikan. Saya meninggalkan beberpa bungkus tembakau dan kemenyan buat mereka. Tahun depan saya akan kembali.

Dari dusun Bengayauan, setelah kenyang durian kemudian kami kembali menyusuri Sungai Gangsal ke arah hilir, kembali ke Desa Rantau Langsat. Sesampainya di desa, di dekat warung yang biasa dipakai sebagai pertemuan pemilik hasil bumi dan pedagang, banyak motor dari hutan yang membawa durian. Kami kemudian memilih berbagai jenis durian untuk kembali dicicipi rasanya. Cuma sepuluh ribuan saja harganya. Dari situ ketika akan pulang, warga yang bersimpati-karena kami jauh-jauh dari Jakarta-menawarkan durian terbaiknya kepada kami, dan tanpa harus membayar.

How To Get There?

Desa Rantau Langsat adalah desa penyangga di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan berada di pinggiran Sungai Gangsal, kecamatan Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Bisa ditempuh dari Siberida dengan kendaraan roda empat carteran atau ojek dengan waktu tempuh 45 menit. Siberida berada di jalur lintas sumatera yang menghubungkan Jambi dan Riau. Siberida bisa ditempuh dengan kendaraan umum dari Pekanbaru dengan waktu tempuh 3-4 jam dengan kendaraan umum atau pribadi.