Wajib Penasaran Bro Rasanya Mendaki Gunung Api Banda!!

Dilihat 740 kali

Dinding kawah terjal terlihat membentang di bawah dua kaki saya. Angin bertiup sangat kencang sekali. Dua sahabat saya yang ikut dalam pendakian ini juga sudah terlelap dalam tidurnya di puncak yang ada di bawah sana.

Setelah meluaskan pandangan, saya hanya bisa memejamkan mata menikmati hembusan angin yang bertiup kencang kalai itu. Puncak Gunung Api Banda seolah sedang mendongeng kisah suram yang tertulis di lembar-lembar sejarah masa lalu Nusantara.

Gunung Api Banda adalah sebuah pulau yang tidak terlalu besar. Karena semua bagian pulaunya adalah gunung api vulkanis, maka bisa dipastikan bencana senantiasa mengancam kehidupan di wilayah ini. Namun tidak hanya letusan gunung api saja yang mengancam pulau ini. Bencana lain seperti gempa dan tsunami juga mengancam karena letak kepulauan Banda ini berada di ujung utara busur dalam banda, serta di batas tenggara lempeng Eurasia dan juga berada di zona tumbukan antara lempeng Indo-Australia yang bergerak keutara dan lempeng Pasifik yang beregerak ke arah barat.

Gunung Api Banda

Namun ditengah kondisi geografis yang membahayakan itu ternyata kepualaun Banda menjadi incaran bangsa-bangsa asing karena rempah-rempah terutama komoditi pala-nya.

Pagi masih belum menampakkan sinarnya, ketika pintu kamar saya di ketuk. Bang Danny yang akan menjadi rival saya dalam pendakian ini. Dia telah lebih dulu bersiap, sementara saya masih dibayangi oleh terjalnya-jalur pendakian yang akan saya lewati. Walaupun tingginya tidak terlalu, tapi menurut beberapa blog yang pernah di tulis oleh sahabat saya, dibutuhkan stamina yang extra untuk melakukan pendakian ini.

Hotel Cilu Bintang, tempat saya menginap juga terlihat masih lengang. Beberapa wisatawan dari luar yang saya jumpai ketika waktu makan malam di hotel juga mungkin masih berada di anggan mimpinya yang indah.

Gunung Api Banda

Yusdin, remaja pulau Neira yang akan menemani pendakian saya juga sudah terlihat, Jadi tidak ada alasan untuk tidak segera memulai perjalanan ini. Jalanan yang ada di pulau Neira juga masih terlihat sepi. Satu dua orang baru terlihat di pasar. Yusdin membawa saya menuju ke tempat perahu ketinting biasa mangkal. Dan karena kepagian, maka teknologi telepon selular-pun digunakan. Terlihat Yusdin sedang menelepon seseorang. Dan tak lama berselang datang sebuah ketinting yang akan mengantarkan kami menuju pulau Gunung Api Banda.

Pak Messi nama pemilik ketinting yang saya naiki. “nama saya memang kayak pemain bola mas, tapi saya lebih suka nonton tinju, ha ha”

katanya sambil terkekeh ketika saya menanyakan apakah masih ada saudara jauh dengan Messi sang pemain bola terkenal itu.

Tak butuh waktu lama, cukup sepuluh menit perjalanan saja-saya sudah sampai di pantai yang letaknya tepat berada di 0 mdpl-nya Gunung Api Banda. Eh tunggu dulu, semburat merah terlihat begitu sempurna di belakang saya. Mentari mulai muncul di balik pulau Neira. Siluet dari benteng Belgica terlihat begitu indah. Tak heran kenapa dulu bangsa-bangsa Eropa memilih tempat itu untuk mendirikan benteng.

Gunung Api Banda

Yusdin mengajak saya untuk segera memulai pendakian.

“Nanti kalau siang panas mas” Begitu selorohnya.

Dan pendakian-pun saya mulai. Setapak demi setapak jalur pendakian saya lewati. Pohon-pohon rindang memayungi awal jalur pendakian ini. Yang paling gak sopan adalah, baru saja beberapa meter jalur pendakian landai dan rindang, eh dilanjutkan dengan tanjakan-tanjakan cihui yang membuat nafas saya sedikit tersengal.

Namun segarnya udara pagi memasok oksigen yang bagus buat tubuh saya. Di “komporin” oleh Yusdin, sayapun segera melanjutkan perjalanan. Baru sekitar lima belas menit kita akan ketemu pos peristirahatan pertama. Dan dari pos ini kita bisa melihat panorama pulau Neira dari ketinggian. Cahaya mentari sepertinya sedang memandikan pulau yang dulu peran menjadi kota kosmopolitan di jamannya itu.

Pendakian harus segera saya lanjutkan. Beberapa papan pengumuman berwarna hijua menghiasi beberapa titik jalur pendakian. Isinya adalah himbauan agar para pendaki tidak membuang sampah sembarangan, serta ikut serta menjaga kelestarian alam yang ada di wilayah Gunung Api Banda ini.

Gunung Api Banda

Trek jalur pendakian makin susah. Di beberapa tempat saya harus berpegangan pada tumbuh-tumbuhan perdu yang berada di sepanjang jalur pendakian. Memang banyak dari sahabat saya menuliskan tentang kondisi jalur pendakian ke puncak Gunung Api Banda ini.

Bebatuan yang diinjak-mudah sekali lepas. jadi dibutuhkan sebuah kehati-hatian dan kewaspadaan tingkat tingi ketika sedang mendaki menuju ke puncak Gunung Api Banda ini. Saya semakin kewalahn dengan jalur pendakian yang semakin susah. Tanjakan makin terjal, dan trek bebatuan juga makin mudah longsong. Bahkan ada beberapa jalur baru dibuat supaya tanjakan yang haru kita lewati tidak terlalu terjal.

Sejatinya jalur pendakian ini adalah jalur aliran air yang berasal dari puncak gunung. Jadi semakin lama akan semakin menyempit-yang hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. Punggung rasanya sudah mau patah, terbebani dengan barang bawaan yang entah kenapa beratnya semakin bertambah.

Gunung Api Banda

Tepat dua jam tiga puluh menit saya mencapai area yang sudah tidak ditumbuhi oleh pepohonan lagi. Hanya rerumputan yang sedang asik menari karen di terpa oleh kencangnya angin yang ada di puncak gunung api banda ini.

Tapi tunggu dulu, ini ternyata belum puncaknya. Saya harus mendaki perlahan, karena angin semakin kencang dan tanjakan yang harus saya lalui bertambah terjal. Salah-salah pijakan dan hilang konsentrasi kita akan skydive meluncur cihuy dari tempat itu. Sebelum melanjutkan perjalanan, saya sengaja mengedarkan pandangan ke segala penjuru mata angin. Terlihat pulau Lonthoir (Banda Besar) di sebelah kanan saya. Tepat di depan saya terlihat pulau Neira dengan iconin runway-nya yang tidak terlalu panjang itu.

Yusdin memanggil saya dari atas puncak. Suaranya hanya terdengar sayup-sayup saja karena terbawa oleh angin yang bertiup sangat kencang sekali. Dan perlahan tapi pasti pendakian saya lanjutkan. Sesekali saya tetap harus beristirahat sejenak untuk menghimpun energi dan memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya kedalam peredaran darah agar otak masih tetap bisa konsentrasi.

Gunung Api Banda

Dan tepat tiga jam pendakian akhirnya saya sampai di puncak Gunung Api Banda.Terbayar sudah sulitnya medan pendakian selama tiga jam tadi. Pemandangan yang luar biasa serta kepuasan yang mungkin tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Sebuah rasa yang selalu saya rasakan ketika berhasil mengapai puncak gunung dengan segala cerita seru jalur pendakiannya.

Pulau Ay dan Rhun terlihat samar-samar di bagian barat sana. Pulau Lonthoir (Banda Besar) juga terlihat hijau dengan lengkung bukitnya yang terlihat terjal. Serta pulau Neira yang terlihat kecil sekali dari atas sini.  Runway bandara yang ada di pulau Neira juga terlihat  sangat pendek dan kecil sekali.  Awan terlihat mengelayut diatas kepulauan Banda ini. Sepertinya saya datang tidak tepat waktu. Jadi beberpa pulau tidak terlihat karena tertutup awan.

Karena kelelahan sayapun asal aja duduk di bebatuan yang ada di puncak. Eh tapi kenapa pantat saya terasa panas ya. Seperti sedang kena uap panas yang datangnya entah dari mana. Dengan terkekeh Yusdin menerangkan bahwa masih banyak tempat yang mengeluarkan asap dan uap panas akibat dari aktifitas vulkanik dari gunung api Banda ini.

Yusdin terlihat sibuk sekali menyusun bebatuan diatas puncak. Gunanya adalah untuk menghalau angin yang bertiup sangat kencang diatas puncak.

Gunung Api Banda

Saya melihat ada dua cerukan besar yang sepertinya bekas kawah. di Disalah satu cerukan itu saya masih melihat beberapa tempat yang masih mengeluarkan asap. Sementara di cerukan yang lain tidak telrihat aktifitas apa-apa.

“biasa kalau kami camping di bawah sana buat tendanya mas”

Yusdin menjelaskan kepada saya ketika saya sedang asik memotret kedua kawah itu. Namun ternyata bukan itu sejatinya puncak dari Gunung Api Banda. Masih ada satu lagi tempat tertinggi yang letaknya ada di seberang dari kedua kawah itu. Dan saya pun sendiri mencoba menggapai tempat itu.

Tidak terlalu susah untuk sampai kesana. Tapi ketika sudah sampai dan berdiri diatas kedua kaki, tiba-tiba kaki saya sedikit gemetar. Tidak tau terlalu capek atau karena kaki saya tepat berdiri di tepi sebuah tebing curam yang terpelest sedikit saja, saya akan meluncur bebas mengikuti jalur turunnya lava hingga ke lava divespot.

Sementara di sebelah kiri saya terlihat juga sebuah lubang besar yang sepertinya juga bekas dari sebuah kawah yang terjadi akibat letusan. Setelah berpijak di pinggir kawahnya, saya kembali dibuat bergidik. Di bawah sana entah ada binatang apa yang masih berkeliaran. Sedikit aja didorong oleh angin yang bertiup kencang, saya akan terpelanting jatuh kedalam lubang besar itu. Dan tanah pijakan saya juga rasanya tidak terlalu kuat untuk menopang beban berat tubuh saya.

Gunung Api Banda

Setelah melihat kesemua bagian puncak, saya kembali ketempat pertama kali mendaratkan pantat tadi. Yusdin dan bang Danny sudah terlelap di tengah panggangan sinar matahari yang bersinar terik kala itu. Rasanya saya egois sekali jika masih ingin berlama-lama di atas puncak. Dua jam lamanya  kami berada di puncak Gunung Api banda. Yang harus saya pikirikan adalah kembali menapaki jalur turun dari puncak hingga kembali ke pulau Neira lagi.

Dan demi apa, jalur turun pendakian ini terasa lebih berat sekali. Tak jarang saya dan bang Danny harus menerapkan trik suster ngesot ketika harus melewati turunan curam dengan bebatuan yang mudah longsor. Bahkan Bang Danny pergelangan tanagganya harus terkilir karena salah mengambil pohon perdu di samping jalur pendakian untuk berpegangan.

Dan setelah drama cedera lutut yang oglek, serta sendi yang terkilir, sampailah kami ke titik awal pendakian tadi pagi. Butuh waktu sekitar tiga jam juga ternyata untuk turun. Celana kesanyangan saya juga harus rela robek parah di bagian pantatnya karena harus keseringan dipakai ngesot ketika melalui jalur turun tadi.

Yusdin kembali menghubungi ketinting bapak Messi yang tadi pagi mengantarkan kami. Tak selang berapa lama ketinting pun muncul dan kami bertiga kembali lagi kepulau Neira.

Gunung Api Banda

Diatas ketinting yang melayari selat kecil di laut Banda yang terkenal dalam itu, saya kembali menoleh kebelakang. melihat puncak gunung Api banda yang sepertinya masih menyimpan banyak sekali misteri disana. Saksi sejarah nusantara ada di Gunung Api Banda.  Terakhir meletas pada mei 1988, gunung api ini seolah sedang tidur. Mengumpulkan kembali tenaga untuk di pelihatkan kepada dunia suatu saat nanti.

Saya kembali belajar pada satu hal dalam pendakian Gunung Api Banda kali ini. Bahwa puncak gunung maupun alam liar bukanlah musuh yang siap di taklukkan. Musuh terbesar adalah ego kita sendiri. Apakah kita bisa atau tidak melawan ago dan rasa menyerah yang kerap kali muncul ketika kita mengalami kesulitan. Gunung dan alam liar adalah sahabat yang sudah selayaknya kita peluk dan jaga.

Gunung Api Banda-Super adventure!