Bertamu ke Rumah Penguasa Belantara Borneo, Orangutan

Dilihat 2530 kali

Suara mesin perahu klotok yang kami tumpangi memecah keheningan hutan Kalimantan. Klotok bergerak lamban membelah Sungai Sekonyer. Saya bersama rombongan wisatawan yang baru saya kenal beberapa menit lalu akan bermalam di perahu kecil ini selama dua malam ke depan. Perahu inilah yang akan mengantar kami bertamu ke Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, bertemu dengan sang tuan rumah, orangutan Kalimantan.

“Taman nasional itu yang di sebelah kanan ya. Sebelah kiri bukan taman nasional, itu perkebunan kelapa sawit,” suara Ary tak begitu jelas, samar ditelan suara mesin perahu. Ary Widianto adalah pemandu kami selama berada di Taman Nasional Tanjung Puting. Ia bersama dengan keluarganya bertugas di perahu klotok dengan peran masing-masing, seperti mengendarai perahu dan menyiapkan makanan.

Saya melambungkan pandangan ke kanan dan ke kiri. Dari atas sungai, keduanya nampak serupa, dipagari oleh pepohonan nipah. Saya kira Sungai Sekonyer bisa menjadi perisai kelangsungan hidup orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting. Ternyata belum.

“Waktu kebakaran kemarin, asapnya tebal banget. Jarak pandang juga ga jauh. Klotok bisa saling nabrak kalo di sungai,” Ary masih ingat peristiwa kebakaran hutan di Kalimantan pada akhir tahun 2015. Ia menggambarkan suasana di taman nasional ketika asap dari kawasan perkebunan kelapa sawit mengepul ke taman nasional. “Orangutan pada lari ngejauhin sungai,” lanjutnya.

Saya melekatkan tatapan ke udara. Melamun. Membayangkan ketika orangutan berhamburan meninggalkan rumah mereka menuju wilayah permukiman warga. Jika Anda melihat orangutan berlari menuju halaman rumah Anda, apa yang akan Anda lakukan? Menyerang? Melindungi diri sebagi hal yang manusiawi mendadak terkesan tidak ‘hewani’.

“Bekantan! Ada bekantan!,” teriakan salah seorang peserta rombongan membuyarkan lamunan saya. Di atas pohon di sisi sungai, kawanan bekantan terlihat sedang bertengger menikmati sore. Kali pertama saya melihat kera bekantan. Ternyata ukurannya tidak sebesar yang saya kira selama ini. Hidung beberapa di antaranya nampak lebih besar. Mereka adalah bekantan jantan. Di kalangan bekantan betina, bekantan jantan memiliki daya tarik seksual yang lebih tinggi dibandingkan dengan bekantan jantan yang hidungnya lebih kecil.

Lain bekantan, lain orangutan. Keperkasaan orangutan jantan tidak direpresentasikan oleh ukuran hidungnya, melainkan oleh ukuran bantalan pipi, tentunya selain ukuran tubuh mereka. Semakin lebar bantalan pipi orangutan jantan, semakin memikat pula orangutan jantan itu di kalangan orangutan betina.

Orangutan jantan pertama yang kami temui adalah Roger. Kami menemuinya di salah satu tempat pemberhentian kami. Masih di area taman nasional, namanya Tanjung Harapan. Kami mendapati Roger sedang berusaha mencari persediaan makanan di gudang yang terletak di tepi dermaga kapal Tanjung Harapan. Kami mendekati Roger dari jarak terdekat, tentunya dengan didampingi oleh pemandu kami, Ary.

Saya tertegun dengan ukuran tubuh Roger. Besar. Berbulu rimbun berwarna cokelat kemerahan. Namun ternyata, Roger bukanlah yang terbesar di Tanjung Harapan. Masih ada Doyok. Hukum alam. Semakin besar tubuh mereka, semakin dianggap berkuasa mereka di suatui wilayah tertentu. Berkuasa atas wilayah, berkuasa atas makanan, dan tentu saja berkuasa atas para betina.

Kami menjumpai Doyok, orangutan terbesar di Tanjung Harapan ketika kami tiba di feeding point. Di tempat ini, sebuah panggung disiapkan. Para petugas terlihat hilir mudik menumpuk umbi-umbian dan buah-buahan di atas panggung.

Kami, para pengunjung dipersilakan duduk di bangku-bangku yang dibatasi oleh pagar bambu. Tak lama kami menunggu, suara gesekan dedaunan terdengar. Di atas pohon, seekor orangutan betina datang dengan membawa bayi orangutan, berayun dari pohon satu ke pohon lainnya menuju pangggung penuh makanan. Kami tidak diperbolehkan mengeluarkan suara yang keras di sini untuk menjaga agar orangutan-orangutan tidak kembali meninggalkan feeding point.

Sebenarnya orangutan di taman nasional tidak perlu diberi makan. Pepohonan yang memproduksi makanan orangutan tumbuh lebat. Ada sekitar 600 jenis tumbuhan di taman nasional ini, 200 di antaranya manghasilkan buah yang bisa dikonsumsi orangutan.

Feeding point yang ada di sini tak ubahnya sarana yang digunakan untuk memudahkan para wisatawan melihat orangutan dalam kondisi duduk tenang dari jarak dekat. Namun sebenarnya, para wisatawan pun bisa menjumpai orangutan di sepanjang jalur perjalan menuju feeding point.

Orangutan lain yang kami temui di tengah perjalanan menuju feeding point adalah Gara, salah satu orangutan betina yang ada di Pondok Tanggui, dan anaknya Zidane. Wajah Gara mudah dikenali, lebih lonjong dari orangutan-orangutan yang kami temui sebelumnya. Kami mendapat penjelasan—dan menbuktikannya sendiri—bahwa orangutan memiliki wajah yang bebeda. Saperti manusia. Perbedaan wajah merekalah yang membuat para penjaga hutan dan pemandu dengan mudah mengenal dan membedakan orangutan-orangutan di sana.

Tak hanya perbedaan wajah orangutan, masa kandungan orangutan pun mirip dengan masa kandungan manusia, sembilan bulan. Orangutan pun dapat melahirkan anak kembar. Di Camp Leakey, tempat pemberhentian ketiga sekaligus terakhir, kami mengunjungi museum kecil orangutan. Museum ini menyimpan berbagai informasi tentang kehidupan orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting, salah satunya adalah pohon silsilah keluarga orangutan.

Kehidupan Malam di Tanjung Puting

Ary dan rekan-rekannya menambatkan perahu klotok di pepohonan di tepi sungai. Hari mulai gelap. Ini adalah malam kedua kami di taman nasional. Suasana malam di Taman Nasional Tanjung Puting selalu membawa kejutan untuk saya. Pada malam pertama kami dibawa bersafari malam. Kami menembus hutan di Tanjung Harapan untuk melihat kehidupan hewan-hewan nocturnal, atau hewan yang aktif pada malam hari. Jalur yang sama dengan jalur yang kami tempuh pada siang hari sebelumnya nampak berbeda. Malam mengubah wajah rimba Kalimantan.

Pada malam kedua, Ary membawa kami mengamati aktivitas buaya-buaya yang ada di Sungai Sekonyer. Ia  berdiri di ujung haluan klotok sambal menggenggam lampu senter di tangan kananya. Ia menggerak-gerakkan senter untuk menyibak kegelapan malam dengan cahaya senter. Sesekali, beberapa ekor buaya bermoncong panjang nampak muncul di permukaan air. Matanya seolah berwarna merah, memantulkan cahaya senter.

Kami menutup perjalanan tiga hari dua malam kami dengan menyenangkan. Klotok sudah selesai ditambatkan ke pohon. Tak jauh dari klotok kami, kawanan kunang-kunang berhimpun di sebuah pohon nipah. Nampak berkedap-kedip seperti pohon Natal di sisi sungai. Kami menikmati malam terkahir kami di klotok dengan cengkrama dan tawa. Tanjung Puting tak hanya memberi kami pengalaman berlibur yang berbeda dari pengalaman berlibur ke pantai, gunung, atau kota. Tanjung Puting juga membiarkan kami menyadari bahwa planet biru, Bumi, tidak hanya diciptakan untuk manusia.

Teks dan Foto: Iyos Kusuma