Mendaki Gunung Api Banda yang Meski Pendek Tidak Bisa Dianggap Remeh

Dilihat 1085 kali

Kalau Bro berkunjung ke Banda Neira atau sudah pernah mendengar namanya sebelumnya, pasti tahu bahwa ada satu gunung berapi aktif yang menjadi ikon dari daerah ini. Meski ketinggiannya hanya 640 meter, tidaklah gampang untuk mencapai puncak Gunung Api Banda yang oleh masyarakat lokal dikenal dengan nama Gunung Api Lewarani.

Gunung Api Banda masih aktif hingga sekarang dan erupsi terakhirnya terjadi pada Mei 1988. Wajarlah banyak wisatawan yang tertarik untuk mendakinya. Waktu pendakian kurang lebih sekitar dua  jam, namun dengan jalur yang menantang, dijamin membuat dengkul gemetar.

Mendaki Gunung Api Banda dimulai dari 0 meter di atas permukaan laut. Berangkatlah pagi sekali agar tidak tersengat panas matahari saat perjalanan naik. Bawalah bekal minuman dan makanan yang cukup, minimal air mineral satu setengah liter per orang.

Pendakian dimulai dari menyeberang dari Banda Neira ke kaki Gunung Api dengan menggunakan kapal kecil yang dinamakan kole kole. Ongkos untuk menyeberang hanya dua ribu rupiah saja. Ongkosnya lebih murah daripada naik angkutan kota.

Ada beberapa rumah di kaki gunung api Banda dan terlihat  jalur setapak kecil di belakang rumah-rumah itu yang tenyata adalah jalur pendakian satu-satunya ke puncak Gunung Api. Di awal pendakian, jalurnya masih didominasi pohon besar dengan vegetasi lebat hingga pos dua. Mulai dari pos inilah, pendakian Gunung Api Banda yang sesungguhnya terasa.

Apa yang membuat pendakian Gunung Api Banda ini berkesan? Tak lain adalah jalurnya yang terdiri dari bebatuan kerikil hitam yang sangat licin. Jika tidak hatihati memilih pijakan, pendaki akan sangat mudah tergelincir. Jalurnya menanjak terus hingga ke puncak tanpa ada bonus dataran landai. Pun tak ada pohon besar yang bisa menjadi pegangan saat menapaki jalur licin itu. Butuh teknik tersendiri untuk mendaki Gunung Api ini agar tetap aman yakni berjalan dengan langkah panjang, tidak terlalu cepat namun tidak terlalu lambat agar membuat kita tidak mudah tergelincir.

Jika jalur terlalu licin dan saya tidak terlalu yakin, saya bahkan merangkak rendah di jalur kerikil ini. Disarankan juga memakai sepatu trekking agar kaki tetap nyaman dan aman ya Bro.

Selain jalur kerikil hitam, kami juga agak kesulitan saat melewati jalur patahan longsor yang membuat kita harus berjalan sambil menghadapkan atau menempelkan badan ke tebing. Salah satu pijakan saja, bisa membuat kita jatuh ke lembahan longsor yang cukup dalam. Tidak ada tali pengaman atau apa pun di sana sehingga kita harus berhati hati benar saat memilih pijakan.

Peluh membanjiri dahi hingga kaki saat mendaki Gunung Api ini. Oleh karenanya kita tidak boleh menganggap remeh Gunung Api Banda ini. Tapi percayalah begitu tiba di puncak, semua lelah itu akan terbayarkan. Saat cuaca sedang cerah, kita akan disuguhkan dengan pemandangan gugusan pulau di Banda yakni Banda Neira, Pulau Banda Besar, Pulau Ay dan Pulau Rhun bahkan Pulau Seram.

Dari puncak juga kita bisa melihat kawah berdiameter sekitar tujuh kilometer yang masih mengeluarkan uap-uap belerang. Uniknya, di puncak juga terdapat batu batu uap panas bumi yang bisa dipakai untuk memasak singkong atau pisang. Jika ingin mencoba sensasi lain, bro juga bisa membawa tenda dan mendirikan camp di puncak lalu menikmati pemandangan matahari terbit dan matahari terbenam dari puncak Gunung Api Banda. Tertarik Bro?

Teks dan Foto: Satye Winnie