Mewujudkan Imajinasi Masa Kecil, Freedive Di Labuan Bajo  

Dilihat 301 kali

Apakah yang paling menarik dari Labuan Bajo?

Ada tiga hal yang dapat menjadi jawaban dari pertanyaan di atas: lanskapnya, komodo, dan bawah lautnya. Lanskapnya memiliki Pulau Padar dan Gili Lawa/Laba yang ikonik dan fotogenik. Komodo menjadi satu-satunya hewan purba yang masih hidup pada saat ini, dan hanya ada di Indonesia. Bawah lautnya menyimpan terumbu karang yang indah dan ikan yang banyak, termasuk kesempatan melihat pari manta yang banyak di Manta Point.

Bisa disebut, hampir semua tempat yang dikunjungi memiliki keindahan bawah laut yang memesona, seperti Pulau Kanawa, Gili Lawa, Manta Point, Pantai Merah (Pink Beach), Batu Bolong, Tatawa Besar, Pulau Padar, Kelor, Sabolo, serta pulau-pulau lainnya memiliki keunikan masing-masing. Misalnya, Pulau Kanawa memiliki coral garden dan slope yang dalam dekat dermaganya.

Di coral garden sangat cocok untuk snorkeling, serta di bagian dermaga bisa untuk freedive, karena di sini bebas dari arus kencang. Gili Lawa, Tatawa Besar, dan Sabolo memiliki dasar yang kedalamannya lebih dari sepuluh meter. Hal inilah yang membuatmu harus menahan nafas lebih lama jika ingin melihat dari dekat keindahan bawah lautnya.

Untuk dapat melihat keindahan bawah laut di tempat-tempat yang disebutkan di atas, kamu harus menyelam. Sebelumnya juga harus memiliki license dan bergabung dengan dive operator untuk  mengikuti trip. Namun, jika kamu belum memiliki license, freedive menjadi solusi bagi kamu yang ingin turun ke kedalaman laut. Menyelam dengan satu nafas ini dapat dilakukan oleh siapapun, namun harus memahami teknik dengan benar dan diawasi oleh seorang teman, atau biasa disebut buddy.

“Woi... jangan ulangi lagi turun (menyelam) sendiri. Ntar kalau lu black out di bawah, kagak ada yang tahu. Hilang lu!” suatu kali Reno menegur saya saat kami di Pulau Kanawa. Reno adalah teman saya yang serius mempelajari freedive dan telah memiliki sertifikat AIDA. Memaksakan menahan napas  lebih lama dapat membuat seseorang pingsan di dalam laut yang dapat berujung kematian, atau black out dalam istilah para freediver. Inilah salah satu alasan pentingnya memahami teknik dengan benar dan diawasi seorang yang berpengalaman, karena freedive berisiko tinggi hingga dapat menyebabkan kematian.

Melihat dari bawah, atau lebih dalam membuat kita memiliki perspektif yang berbeda dibandingkan melihat dari atas seperti saat snorkeling. Turun ke kedalaman dapat membuatmu melihat berbagai jenis terumbu karang dari dekat, melayang bersama ikan berbagai jenis dan warnanya, serta melihat perbedaan warna air laut saat melihat ke bawah dan ke atas.

Di Manta Point kamu dapat melihat manta dari dekat, serta berenang  bersama mereka yang lebih sering berada di dasar laut daripada mengambang di permukaan. Tidak hanya pari manta yang dapat dilihat dari dekat, penyu dan hiu karangpun bisa ditemukan dengan mudah saat kamu menyelam bebas di perairan Komodo. Seperti saat saya dan Andri turun hingga kedalaman dua belas meter di Gili Lawa, kami menemukan penyu besar yang bermain di dasar tebingnya.

Human can’t fly indeed. But we can dive, and it’s kind of the same thing. Kutipan ini akan dapat kamu amini ketika berada di dalam laut. Kamu bebas menggerakan tubuhmu kemanapun. Melayang bebas bersama makluk-makluk di dalam laut dan melihat keindahan alam yang memikat mata. Tapi kamu harus kembali ke atas untuk mengambil napas.

Melakukan surface interval yaitu tetap berada di permukaan minimal dua kali lebih lama daripada saat di bawah laut. Untuk memberikan toleransi oksigen bagi tubuh, agar saat menyelam berikutnya dapat sama atau lebih lama bertahan di dalam laut. Setelah itu kamu baru boleh turun lagi. Menahan napas sambil terbang bebas di kedalaman laut.

Ketika kecil kita sering berimajinasi bisa terbang seperti jagoan yang biasa dilihat dalam tivi. Jika kamu masih menyimpan imajinasi itu, maka freedive dapat membebaskan imajinasi masa kecilmu. Terbang bebas di dalam laut layaknya burung terbang di udara.