Trekking Pagi Memburu Sunrise di Danau Kelimutu

Dilihat 449 kali

Langit masih gelap ketika mobil yang saya tumpangi meninggalkan Moni, pintu gerbang menuju Danau Kelimutu. Tak hanya saya, beberapa rombongan juga turut menyisir jalan berkelak-kelok dari Moni. Beberapa kali pula mobil yang saya tumpangi disalip oleh motor-motor yang ditunggangi para wisatawan, tujuannya sama, Puncak Kelimutu.

Danau Kelimutu memang salah satu primadona wisata di Flores, bahkan Indonesia. Danau ini unik dengan tiga warnanya yang berubah-ubah, keunikannya pernah diabadikan dalam mata uang, tiga warnanya yang berubah-ubah mengundang para peneliti datang. Sekarang, hampir tiap hari pengunjung datang silih berganti demi menikmati danau tiga warna yang magis.

Setelah kira-kira 20 berjalan dari Moni, tiba-tiba mobil berhenti di pos pembelian tiket. Baru setelah membeli tiket, mobil harus menanjak lagi menuju area parkir. Tanjakannya lebih curam daripada sebelumnya.

Dari area parkir saya harus trekking melalui jalan setapak untuk menuju Puncak Kelimutu. Langit masih sangat gelap, saya harus meraba-raba arah jalan dengan senter. Pohon tinggi rapat sekali di kiri kanan jalan setapak.

Kabut masih pekat dan saya harus mengatupkan jaket karena cuaca dingin makin menyergap. Saya hampir tiba di Danau Kelimutu ketika mentari pelan-pelan memunculkan semburat warna merah dari langit.  Dari balik perbukitan, ufuk merah mulai menyebar dan mewarnai langit.

Saya bergegas menaiki tangga menuju puncak Kelimutu. Satu demi satu anak tangga saya naiki, setapak demi setapak penuh kesabaran hingga akhirnya saya tiba di puncak dan menikmati mentari terbit dari Puncak Kelimutu yang sungguh menawan.

Di Puncak Kelimutu ini ada tugu peringatan dan dari sini pula pengunjung bisa melihat panorama ketiga danau yang warnanya berbeda-beda ini. Masing-masing danau memiliki warna yang berbeda dengan cerita yang berlainan pula.

Danau ini dikeramatkan oleh Suku Lio, suku yang tinggal di sekitar Danau Kelimutu. Konon tiap tahun berubah warna, hal ini dipengaruhi oleh aktivitas gunung itu sendiri.

Walau demikian Suku Lio memliki cerita sendiri terkait Danau Kelimutu. Suku Lio percaya bahwa Danau Kelimutu adala tempat arwah-arwah para tetua adat yang meninggal, mereka berada di danau pertama yang terpisah dari dua lainnya dan oleh Suku Lio disebut dengan Danau Tiwu Ata Mbupu.

Danau kedua dinamai TIwu Nuwa Muri Ko’ofai, konon menjadi tempat bersemayamnya arwah pemuda-pemudi yang sudah meninggal. Sementara danau terakhir bernama Tiwu Ata Polo yang konon menjadi tempat arwah jahat.

Tiga cerita ini berkelindan dengan penelitian yang dilakukan bahwasanya memang dalam waktu tertentu danau ini akan berubah warnanya. Itulah kenapa banyak wisatawan yang datang ke Danau Kelimutu karena keunikan permukaan danaunya.

Semakin siang pemandangan justru semakin memukau, ketiga permukaan danau sudah tampak semuanya. Para wisatawan pun bergegas mengambil foto permukaan Danau Kelimutu.

Selain pemandangan danau, hal menarik yang ada di Puncak Kelimutu adalah mama-mama penjaja kopi dan makanan ringan. Saya memesan kopi hitam sembari menikmati pagi di Puncak Kelimutu. Rasanya nikmat, aromanya sedap, amboi, rasanya menyesap kopi mampu menghilangkan rasa lelah mendaki ke Puncak Kelimutu.

Trek ke Kelimutu tergolong sebagai trek ringan, tidak perlu bersusah payah. Namun demikian harus dilengkapi juga dengan beberapa persiapan. Seperti jaket, baju hangat dan juga siapkan stamina. Menuju Puncak Kelimutu juga harus bersiap pagi-pagi sekali, jadi stamina harus dijaga dengan benar.

Trekking menuju Puncak Kelimutu walaupun harus membunuh kantuk di pagi buta tapi tergantikan dengan panorama matahari terbit dan danau tiga warna yang begitu magis. Jika ke Flores jangan lupakan untuk mendaki Kelimutu.

Teks dan Foto: Farchan Noor Rachman