Mahameru; Pendakian Mengenal Batas Diri

Dilihat 160 kali

Gunung Semeru, sebuah gunung berapi tertinggi di pulau Jawa ini selalu berhasil mencuri perhatian setiap orang. Gunung legendaris yang satu ini erat kaitannya dengan Hindu-Buddha, diadopsi dari bahasa sansekerta yaitu Gunung Meru. Berdasarkan kosmologi hindu-buddha, gunung ini dianggap sebagai pusat alam semesta, baik secara fisik maupun metafisik (spiritual). Gunung Semeru juga dipercaya tempat bersemayamnya para dewa. 

Sebagai seorang manusia, alam bebas, khususnya gunung adalah media belajar yang baik bagi kita. Mendaki gunung pada hakekatnya bukan semata-mata hanya menikmati keindahan alam, lebih dari itu mendaki gunung berbicara tentang pengalaman dan pelajaran hidup. 

Ranu Kumbolo, Gunung Semeru. Dok. Pribadi

Ilmu-ilmu yang mungkin belum pernah kita dapatkan sebelumnya bakal kita dapatkan ketika kita memutuskan untuk mendaki sebuah gunung. Dari arti sebuah perjuangan, arti perjalanan, manajemen waktu dan persediaan logistik, kerjasama tim, kesetiakawanan, rendah hati, pengambilan keputusan, komunikasi, hingga tata krama. 

Oro-Oro Ombo, Gunung Semeru. Dok. Pribadi

Keberanian harus dimulai dari dalam sendiri, keberanian untuk keluar dari zona nyaman kita, keberanian untuk mendaki ke puncak tertinggi di pulau Jawa. Dan keberanian itu tentunya bukan lah hal yang sia-sia, banyak hal yang bisa kita petik dari suatu keputusan untuk mendaki gunung ini sampai puncaknya.

Trek pasir Gunung Semeru. Dok. Pribadi

Perjalanan ke Mahameru selalu mempunyai maknanya sendiri berapa kali pun kita singgahi. Kebanggaan menginjakkan kaki di titik tertinggi di pulau Jawa akan terus tertanam di diri kita, tentunya hal itu nggak bisa diraih tanpa rintangan dan perjuangan berat bergumul dengan trek pasir Semeru yang maha dahsyat itu, ditambah lagi dengan suhu dingin yang menusuk tulang. 

Kalimati; view langsung Puncak Mahameru. Dok. Pribadi

Pendakian menuju ke puncak Semeru (Mahameru) adalah ujian nyata sebuah perjuangan yang berharga ketika kita berhasil merengkuhnya. Sebagian besar orang yang berhasil berjuang melewati rintangan itu hingga puncak Mahameru untuk pertama kalinya, niscaya menitikkan air mata tanda haru, dan tak lupa dengan segera kita langsung merasakan kebesaran Tuhan dengan ciptaanNya yang menakjubkan.

Asap Wedus Gembel dari Kawah Jonggring Saloka, Gunung Semeru. Dok. Pribadi

Manusia sangat lah kecil bila dilihat dari atas sini. Manusia dengan gunung pun layaknya serpihan kerikil, maka mustahil seorang manusia berhasil menaklukan sebuah gunung. Yang benar adalah manusia berhasil menaklukan dirinya sendiri, dan gunung adalah medianya.

Mendaki ke puncak Mahameru merupakan pertarungan sengit antara kita dan diri kita sendiri. Ada pepatah yang bilang; "Musuh terbesar adalah dirimu sendiri", pepatah itu benar adanya mengingat perjuangan yang telah/akan kita lewati.

Puncak Mahameru, 3.676 mdpl. Dok. Pribadi

Seberapa sering orang itu berada di puncak-puncak gunung, artinya berkali-kali pula ia mengalahkan dirinya sendiri. Karena mendaki gunung sejatinya adalah perjalanan mengenal batas diri.

Untuk yang udah pernah menginjakkan kaki di Puncak Abadi Para Dewa ini pasti mengalami hal yang sama. Untuk yang belum pernah dan memiliki keinginan, lo harus memberanikan diri melangkah. Karena sebuah tekad aja nggak cukup tanpa diimbangi dengan keberanian.

#IDARE