Kesasar Di Kota Tua? Make the Best of It!

Dilihat 535 kali

Tersesat dan Ditemukan di Labirin Kota Tua Marrakesh Sebagai penggemar peta dan petualangan, saya sering berkata dengan percaya diri jika saya tidak pernah tersesat. Lebih tepatnya, saya percaya kita hanya “menempuh rute yang lebih panjang dan waktu yang lebih lama untuk tiba di tujuan.” Perjalanan merupakan sarana eksplorasi. Jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, kenapa tidak berpikiran terbuka untuk melihat hal-hal baru? Nikmatilah setiap momen yang ada, begitu pikir saya. Namun, ketika sudah berjam-jam berputar tak tentu arah di dalam kota tua Marrakesh, pemikiran optimis itu hancur lebur. Saya tersesat!

03 Ini bukan jenis tersesat di mana kita tahu kita berada di arah yang benar, tapi tidak yakin harus belok di jalan yang mana. Bukan juga tersesat yang dengan mudah bisa bertanya arah dan orang setempat akan menunjukkannya segera. Saya terjebak di tengah labirin yang tersusun dari puluhan gang sempit yang bercabang dan saling berkait sebelum akhirnya bercabang kembali. Saya tidak tahu apakah saya telah berjalan dalam lingkaran atau memang semua fasad bangunan terlihat sama. Tembok bernuansa cokelat tembaga dengan rak berisi aneka kerajinan atau karpet yang tergantung dari lantai dua. Awalnya saya berharap jika saya terus berjalan sambil melihat secarik peta kecil di tangan pada akhirnya saya akan menemukan jalan keluar juga. Sepertinya tidak.

04 Inilah perkenalan pertama saya dengan medina, kota tua berbatas benteng di jantung kota Marrakesh. Segala keruwetan ini berawal dari alun-alun Jemaa el-Fna. Di sana aroma rempah-rempah bercampur asap dan kotoran kuda menyeruak tajam. Para penjual obat, pawang ular, topeng monyet dan grup akrobat, saling berteriak riuh rendah berpadu dengan suara jantung yang berdebar kencang seolah mengucapkan selamat datang. Saya seperti terlempar ke masa seribu tahun lalu. Masa ketika para pedagang masih datang dengan unta-unta yang dipenuhi muatan berharga dari balik Gurun Sahara.

05 Alun-alun ini memiliki banyak sisi dengan jalan kecil di setiap sudutnya. Masing-masing jalan mengantarkan kita pada souk atau pasar tradisional dengan kekhasan dan nilai jual yang berbeda. Dari kerajinan tembaga khas Afrika Utara, lampu kristal, kaca patri, rempah-rempah hingga permadani. Dari pemintalan benang sutra, penyamakan kulit, pasar yang khusus menjual bahan-bahan perdukunan atau sihir hitam ada di sana. Tidak banyak nama jalan terpasang di tembok medina. Kalaupun ada, nama itu tidak sama dengan yang ada di peta atau tertulis kecil dalam huruf Arab tanpa tanda baca. Jika jalan yang tergambar di peta menyerupai jalan utama, aslinya bisa jadi berupa gang kecil yang terselip di belakang rumah orang.

06 “Are you lost? I can help you. Where you from?” “Where you want to go, Lady?” “Come with me.. Hello, Lady... come with me.” Seharusnya tawaran seperti itu datang bagaikan oase di tengah padang pasir. Sayangnya, ini bukan tempat panutan untuk mengandalkan kebaikan. Uang, tipuan dan wanita asing yang berjalan sendirian dalam kebingungan menjadi bagian dari permainan. “Non, merci.” Begitu terus saya menjawab sambil tersenyum sopan. Tantangan seorang pejalan perempuan ada dua. Tak hanya harus waspada memperhatikan jalanan sepi, seringkali saya harus melihat ke belakang untuk memastikan tidak ada yang membuntuti atau berusaha menggerayangi.

07 Saat itu saya benar-benar telah kehilangan orientasi arah. Sambil berjalan pelan agar tidak menarik perhatian, saya memotret sebuah bendera negara Maroko yang tepasang di atas sebuah tembok rumah. Seorang pria Arab berusia empat puluhan dan berpakaian rapi berjalan mendekat dari arah yang berlawanan. “Anda mencari pintu keluar medina?” tanyanya dalam bahasa Inggris yang fasih. Ia langsung menunjuk sebuah jalan sebelum saya sempat memberikan jawaban.

08

Antara menyerah dan kelelahan, saya menengok ke arah jalan yang dimaksud. Berusaha menimbang-nimbang apakah masukannya tulus atau tipuan. Ia menyadari keraguan saya dan berusaha meyakinkan kalau itu jalan yang benar. “Senang fotografi?” tanyanya lagi. “ Di medina sebelah timur sedang ada festival kulit dan permadani. Seluruh pengrajin terbaik Maroko berkumpul di sana. Berbagai warna cerah sangat cantik untuk ditangkap kamera anda. Ini hari terakhir, jadi usahakan untuk mendapat momennya.” Saya mengernyit sambil tersenyum ragu-ragu. “Jangan khawatir, saya tidak akan membawa anda ke sana. Anda bisa mencari sendiri.” Ia lalu memberi petunjuk arah sebelum mengucapkan selamat tinggal. Tingkat kewaspadaan saya mulai berkurang. Mungkin masih banyak orang baik di dalam benteng ini. Belum jauh berjalan, pria itu menyapa seorang bapak tua yang datang sambil memanggul lembaran kulit sapi. Mereka pun berjalan mendekat. Pria itu menjelaskan kalau Si Bapak sedang bekerja membantu pelaksanaan festival. Ia menganjurkan saya untuk mengikutinya tanpa perlu mengeluarkan uang sedirham pun.

09 Maka berjalanlah kami di antara jalan-jalan kecil melewati pasar-pasar di medina. Walaupun telah hilang orientasi arah, saya merasa kami berjalan semakin jauh dari Jemaa el-Fna. Percuma saja saya bertanya karena kami tidak berbicara dalam bahasa yang sama. Akhirnya kami tiba di depan sebuah gapura di mana telah menunggu seorang pemuda berbadan kekar dan berbalut kaus sepakbola bernomor 7. Ia menyodorkan sejumput daun mint segar untuk saya hirup, kemudian mengajak saya masuk ke dalam. Tempat itu adalah tannery atau penyamakan kulit. Sebuah area terbuka dengan tong-tong besar berisi berbagai cairan untuk merendam. Tidak ada warna menarik, yang ada hanyalah tanah becek dengan bau kotoran sapi.

10 “Bukan ini,” seru saya. “Festival!” Ia mengangguk mengerti lalu membawa saya ke toko sebelah. Pintu toko itu tertutup. Sebuah logo bertuliskan Visa dan Mastercard tergantung di sana. Begitu pintu dibuka, sekitar lima orang pria berpakaian djellaba bangkit dan segera menyongsong kami berdua. Mereka berseru menawarkan karpet dengan kualitas dan harga terbaik. Saya semakin paham bahwa saya berada di dalam satu dari sekian banyak jaringan penipuan yang terencana. Serta merta saya berjalan mundur dan bergegas kembali ke jalan utama. Pemuda dengan daun mint itu berlari mengejar. “Hei, mau ke mana?” tanyanya sambil menggenggam pergelangan tangan saya. Dengan sekali kibas saya melepaskan diri. “Keluar dari medina.” “Saya antar.”

Ia langsung berdiri di sebelah saya dan bersikeras untuk mengantar ke gerbang timur yang ternyata hanya berjarak 50 m dari tempat kami berada. Uanglah yang ia minta. Saya merogoh saku dan mengambil sekeping koin sepuluh Dirham yang segera ditolaknya. “Take it or leave it,” ujar saya dengan geram. Ia mengambil uang itu lalu pergi sambil menggerutu. Udara di luar kota tua Marrakesh terasa segar dengan aroma tanah basah bercampur polusi dan kebebasan. Tersesat memang bagian dari pengalaman dan petualangan. Jika tidak tersesat saya tidak akan menemukan gang-gang rahasia, pasar sihir hitam atau toko yang menjual barang antik (yang katanya) bekas peninggalan bangsa Moor dari abad pertengahan. Terlepas dari kebingungan dan rasa takut, setiap sudut sangat cantik dan menarik untuk diabadikan. Kita hanya perlu mengambil napas dalam-dalam sebelum menggunakan logika atau menyerah dan mengambil beberapa keping uang sebelum bertanya jalan pulang.