5 Hal yang Harus Dilihat di Flores

Dilihat 324 kali

Ketika pertama kali menginjakkan kaki ke Flores pada 2012 silam, saya langsung meyakini bahwa Flores itu spesial. Belum mendarat saja, saya sudah disuguhi pemandangan yang menawan dari balik jendela pesawat. Gugusan pulau-pulau kecil berwarna kecokelatan di bawah, dengan pantai putihnya yang panjang dan air lautnya yang berwarna toska. Rasanya sungguh tak salah, apabila bangsa Portugis menamakan Pulau ini dengan “Flores”, yang berarti bunga, dalam bahasa mereka.

Berlainan dengan kebanyakan pulau di Indonesia, nama Flores justru diberikan oleh para pedagang dan misionaris Portugis yang mendatangi tempat ini sekitar abad ke-15 hingga 16. Asal mulanya dari Cabo de Flores (Cape of Flowers) yang merujuk ke bagian timur pulau ini.

Berbeda dengan island hopping yang saya lakukan tahun 2012, pada pertengahan 2016 saya kembali mendatangi pulau seluas 13.540km2 --dengan Maumere sebagai kota terbesarnya, untuk melakukan road trip mulai dari Ende hingga ke Labuan Bajo.

Apabila, suatu saat nanti kamu (dan saya rasa kamu memang harus) berkunjung ke Flores, berikut saya pilihkan 5 hal yang harus kamu lihat di Flores.

Komodo

Ya, komodo, karnivora buas asli Indonesia yang sering disebut sebagai “komodo dragon” ini adalah jenis kadal terbesar yang ada di muka bumi. Panjangnya dapat mencapai tiga meter, dengan berat 160 Kg. Saat ini, komodo yang jumlahnya makin menipis tiap tahun, tersebar di Kepulauan Komodo yang dapat ditempuh dalam waktu 2-3 jam, sailing dari Labuan Bajo.

Di sini, komodo merupakan sajian utama, tak ada orang yang berkunjung ke sini untuk menyaksikan bule-bule berbikini yang asyik berjemur di pantai, tempat-tempat bernuansa horor, maupun orang-orang yang rela basah-basahan karena sedang merayakan Songhkran.

Tips: Buat wanita, sebaiknya jangan datang ke sini, ketika datang bulan, karena komodo dapat mencium aroma darah dari jarak 5 Km. Kalaupun terpaksa datang, harap selalu dekat-dekat dengan ranger. Tenang, ranger-nya tidak menggigit kok.

Pink Beach

Satu hal yang tak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Pulau Komodo, adalah mengunjungi Pink Beach yang terletak tak jauh dari situ. Bahkan, ada yang bilang, belum ke Flores kalau belum mampir ke Pink Beach, yang merupakan salah satu dari (konon kabarnya) tujuh pantai berwarna langka di dunia.

Pink Beach, dinamakan seperti ini karena memang pantai ini memiliki pasir berwarna merah muda, yang diceritakan terbentuk dari batuan laut berwarna merah yang terkikis selama bertahun-tahun. Lihatlah ketika ombak datang, dan menyapu pasirnya kembali ke daratan, maka kamu akan mendapatkan warna pink yang menawan.

Tips: Keindahan pulau di mana Pink Beach ini berada, bukan hanya terdapat di pantainya. Dakilah bukitnya, dan berenanglah di lautnya, niscaya kamu akan terkesima dengan keindahannya!

Kawah Kelimutu

Di puncak Gunung Kelimutu, terdapatlah 3 buah kawah yang menurut legenda terbentuk karena pertikaian antara Ata Polo si tukang sihir jahat yang akan memangsa sepasang muda-mudi, dan Ata Bupu, si petani yang melindungi muda-mudi tersebut dengan sifat welas asihnya.

Kini, mereka sudah tiada, berganti dengan tiga kawah cantik yang berbeda warna di Kelimutu. Tiga buah kawah yang diberi nama Tiwu Ata Mbupu (dipercaya sebagai danau tempat berkumpulnya arwah para tetua yang sudah meninggal), Tiwu Ata Polo (yang dipercaya sebagai danau tempat berkumpulnya arwah orang jahat yang meninggal), dan Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai (dipercaya sebagai danau tempat berkumpulnya arwah muda-mudi yang meninggal).

Sekadar informasi, Kawah Kelimutu pernah dijadikan ikon pada uang Rupiah pecahan lima ribu, beberapa tahun silam.

Tips: Datanglah ke Kelimutu sebelum matahari terbit, ketika langit gelap bertabur bintang, kemudian saksikanlah salah satu sunrise paling indah di Indonesia.

Kampung Wae Rebo

Kampung di Atas Awan, begitu mereka menyebutnya. Karena memang, untuk mencapai kampung ini hanya bisa dicapai dengan cara mendaki sejauh kurang lebih 5 kilometer dengan trek yang sedikit terjal dan licin, menyusuri Hutan Lindung Todo Repok yang memiliki luas total sekitar 10.500 hektar, menuju ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Untuk penduduk setempat, mungkin waktu tempuhnya hanya satu jam, namun bagi saya yang kurang olahraga dan sedikit obesitas, waktu tempuh ke Wae Rebo bisa menjadi berlipat tiga.

Namun, begitu tiba di Wae Rebo, kamu akan lupa dengan pendakian yang melelahkan, karena keindahan yang tersimpan pada kampung adat berisi tujuh rumah tradisional yang telah dihuni turun-temurun selama 19 generasi ini sangatlah sepadan dengan perjuangan yang telah kamu lakukan.

Tips: Apabila ingin mengunjungi Wae Rebo, persiapkan fisikmu jauh-jauh hari. Jangan sampai kelelahan ketika mendaki, dan malah ditandu.

Milky Way

Setelah matahari terbenam, sajian paling mewah dari Flores adalah langit malam yang penuh bintang. A sky full of stars, kalau kata Coldplay. Dengan tidak adanya polusi pabrik dan asap Metromini, maka langit Flores menjadi sangat bersih dan cerah untuk dinikmati.

Apabila malam tiba, jangan buru-buru tidur, cobalah pergi ke luar, ambil kamera dan tripodmu untuk mengabadikan bintang-bintang, yang kalau beruntung, kamu juga akan mendapatkan milky way di langit.

Tips: Belajarlah teknik foto untuk mendapatkan milky way di langit, yang basic-nya adalah foto diambil dengan aperture lebar, serta shutter speed yang lama.