Menjelajah Anak Krakatau

Dilihat 766 kali

Ombak dan hujan menyambut di lautan ketika kapal kayu yang saya naiki berlepas dari Pantai Sari Ringgung, Bandar Lampung menuju Krakatau. Saya benar-benar tak menyangka jika cuaca cerah tiba-tiba menjadi hujan yang mengerikan.

Perjalanan menuju Krakatau kira-kira akan ditempuh dalam waktu lima jam dan jika kalian tahu, kapal kayu kecil ini sedari berangkat sudah kepayahan diombang-ambingkan gelombang. Saya sendiri terdiam di dalam kapal, tak berani keluar karena melihat betapa gelap dan pekatnya awan, kencangnya angin dan tingginya gelombang.

Lepas pukul dua siang akhirnya kapal kayu merapat di pantai Anak Krakatau. Cuaca yang tadinya mendung kembali cerah. 

Menuju Anak Krakatau memang perlu persiapan matang. Jarak yang jauh serta kapal yang terbatas menjadi kendala. Pun demikian jika kalian sudah sampai, tidak ada fasilitas penginapan jika ingin menginap. Kendala tersebut membuat ongkos untuk menuju Anak Krakatau menjadi tidak murah.

Walau demikian Anak Krakatau memang memukau, muncul dari letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang letusannya sampai mengguncang Benua Eropa. Anak Krakatau hingga kini masih terus tumbuh dan aktif.

Daerah Anak Krakatau merupakan daerah yang relatif kecil. Di pesisir terdapat pondok pengamatan gunung berapi yang menjadi tempat bagi para penjaga gunung untuk tinggal. Mereka secara berkala akan bergantian kembali ke Bandar Lampung untuk pulang dan mengisi ulang logistik yang dibutuhkan di pondok ini.

Saya segera bersiap untuk mendaki Anak Krakatau. Cuaca justru semakin panas, apalagi medan pendakian Anak Krakatau sangat menantang. Saya menyarankan jika kalian akan mendaki Anak Krakatau lebih baik lengkapi diri dengan persiapan yang matang.

Jalur menuju puncak Anak Kratau adalah jalur berpasir, hal ini membuat langkah semakin berat. Saya pun harus berulang kali menutup muka karena angin menerbangkan pasir-pasir vulkanik dan membuat pedih mata.

Karena Anak Krakatua masih aktif, daerah pendakian terasa sangat panas. Saya terus mendaki sembari melihat puncak Anak Krakatau yang masih mengepulkan asap vulkanik. Kontur Anak Krakatau sangat menantang, gigir tebing untuk mendaki sedikit curam dan sempit. Saya harus sangat berhati-hati agar tidak terpeleset. Jika tidak maka saya bisa tergulung menuju tebing yang berisi pasir dan batu-batu besar.

Memang tidak butuh waktu lama untuk mendaki Anak Krakatau. Karena statusnya yang masih aktif, pendakian hanya diizinkan sampai dengan sepertiga gunung. Sisanya saya menikmati puncak Anak Krakatau yang dengan gagahnya terus mengepulkan asap vulkanik.

Anak Krakatau memang sebuah keajaiban alam yang jika menatapkan pun membuat kalian akan tergetar. Menuju Anak Krakatau dengan susah payah membuat saya menikmati setiap momen mulai dari berangkat menerjang gelombang sampai ketika bisa menikmati asap vulkanik Anak Krakatau dari dekat. Lamanya perjalanan tergantikan dengan pemandangan yang tiada duanya.

Saya tak bisa lama-lama menikmati Anak Krakatau, penjaga pulau sudah berpesan pada saya bahwa akan sangat berbahaya jika lama-lama di atas karena asap vulkanik tersebut yang tidak baik untuk tubuh. Saya segera turun dan kembali ke pantai, kembali ke kapal dan akan kembali menerjang gelombang menuju Bandar Lampung dalam lima jam perjalanan.

Teks Dan Foto : Farchan Efeneer