Pesona Warna-warni Sawarna

Dilihat 286 kali

“Desa Sawana tengah merias diri agar lebih banyak dilirik wisatawan. Masyarakat Desa Sawarna terus berupaya mewujudkan mimpi van Gough. Mimpi agar Sawarna dikenal baik oleh dunia”.

“Makam?,” saya mengangkat alis mendengar saran Pak Iyus. Ketika saya sedang berlibur di suatu desa yang memiliki pantai panjang berpasir putih, saya sebenarnya lebih mengharapkan jawaban berupa pantai sepi yang jarang dihinggapi wisatawan.

“Iya. Makan van Gough,” Pak Iyus menegaskan.

Van Gough Sang pelukis termahsyur dari Negeri Kincir itu dimakamkan di Desa Sawarna? Di Banten? Akal sehat ini mulai meragukan saran Pak Iyus.

Tak lama kemudian, kaki telanjang saya sudah berayun menelusuri Pantai Ciantir yang membentengi Desa Sawarna dari Samudera Hindia. Tak banyak wisatawan yang berlibur di pantai yang membentang sejauh kira-kira 3,5 kilometer siang itu. Hanya beberapa keluarga yang asyik berlarian ke bibir pantai mengejar ombak, lalu berhampuran kembali menjauhi garis pantai ketika ombak datang. Kejar-kejaran.

Saya berbelok di dekat jembatan yang melintang di atas muara sungai. Tak jauh lagi, jika Pak Iyus tidak sedang bercanda tentang makam van Gough. Saya melintasi permukiman penduduk untuk mencari lapangan sepak bola yang dikatakan Pak Iyus.

Tak jauh dari tempat saya berdiri, sebuah batu nisan menjulang. Hanya satu-satunya batu nisan yang ada di sekitar sana. Saya menghampiri.

JEAN LOUIS VAN GOUGH. Jadi, bukan Vincent van Gogh? Seketika saya merasa bodoh telah berharap menemukan makam sang maestro yang terkenal dengan lukisan berjudul Starry Night itu di Banten, di desa kecil yang berjarak sekitar 200 kilomoter dari Jakarta.

“Itu masih saudaranya pelukis itu tadi, katanya. Siapa namanya? Vincent van Gogh?,” tukas Pak Tukijo. Saya berkenalan dengan Pak Tukijo, salah satu penduduk Desa Sawarna. Sejak 1975, Pak Tukijo ditugaskan oleh PT Perkebunan Negara VIII untuk mengurus perkebunan kelapa seluas 55 hektar di Desa Sawarna. Areanya juga mencakup Pantai Ciantir hingga ke Tanjung Layar, semenanjung dengan dua batu karang besar yang menjadi ikon pesisir Sawarna.

Pak Tukijo menjelaskan keterkaitan Desa Sawarna dengan van Gough pada masa silam. Menurut Pak Tukijo, perkebunan kelapa di Desa Sawarna dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda sebelum kemudian dikuasai oleh PT Perkebunan Nusantara VIII. “Van Gough itu tentara Belanda yang dulu punya kebun kelapa di sini,” ia melengkapi ceritanya.

Setibanya di Jakarta, saya mencoba menguji pernyataan Pak Tukijo bahwa van Gough yang dimakamkan di Banten adalah kerabat dari van Gogh yang tewas karena bunuh diri di Perancis tahun 1890. Nihil. Hampir tidak ada jurnal yang menunjukkan bahwa keduanya terikat hubungan darah—atau bahkan sekedar saling mengenal.

Penelusuran saya masih sumir. Namun, situs genegraphie menyangkal pernyataan Pak Tukijo. Jean Louis van Gogh memang disebut memiliki saudara sepupu bernama Vincent Wilhelm van Gogh dan adik bernama Vincent Willem van Gogh. Namun kedua Vincent ini tidak tertulis sebagai Vincent Willem van Gogh, sang pelukis.

Warna-warni Sawarna

Semasa hidupnya, Jean Louis van Gough tidak hanya menanam kelapa, ia juga menanam sebuah mimpi. Van Gough ingin agar Desa Sawarna dikenal dunia kelak. Sebuah mimpi yang tidak muluk bagi saya. Pamor Pantai Ciantir di Desa Sawarna masih jauh jika dibandingkan dengan pamor bentangan alam lainnya di Banten. Sebut saja Pantai Anyer atau Tanjung Lesung. Tapi pamor tempat wisata tak selalu berbanding lurus dengan keindahan alam yang ditawarkan.

“Desa Sawarna tidak hanya menawarkan pantai berpasir putih. Bentangan panorama Desa Sawarna juga punya penawaran lain: goa-goa di pinggir pantai dan batu-batu karang yang menghujam dari bawah permukaan pasir.”

26 goa karst tersebar di sepanjang garis Pantai Ciantir, meski hanya tiga di antaranya yang diperkenalkan kepada pengunjung sebagai goa wisata, Goa Lalay misalnya. Masyarakat secara swadaya mengelola goa-goa ini agar dapat dikunjungi oleh wisatawan. Perlengkapan caving disewakan di mulut goa oleh warga Desa Sawarna.

Jika Anda ingin melancong ke Sawarna, siapkan setidaknya satu hari penuh. Itu pun saya rasa beum cukup jika Anda ingin menyusuri seluruh garis pantai. Jangan lupakan ikon Desa Sawarna. Jika anda menelusuri Pantai Ciantir atau Desa Sawarna di mesin mencari Google, Anda akan diantarkan pada halaman bergambar dua batu karang yang menjulang tinggi. Itulah Tanjung Layar.

Pada sore hari, biasanya para wisastawan berkumpul di Tanjung Layar untuk memotret terbenamnya matahari di belakang batu-batu karang. Bentuknya yang menyerupai layar kapal membuat tanjung ini dinamai Tanjung Layar.

Jangan lupakan juga pesona lain Desa Sawarna. Jika Anda bergerak ke arah timur, masih banyak rupa panorama alam yang berbeda, misalnya puluhan nelayan yang asyik memancing ikan di atas batu karang pada sore hari. Tak banyak wisatawan di area ini. Jika Anda ingin menjauh dari hiruk pikuk wisatawan, silakan bergeser ke arah timur Pantai Ciantir menuju arah Karang Taraje.

Namun Pantai Ciantir adalah primadona di Desa Sawarna. Pantai berpasir putih yang terbentang hingga 3,5 kilometer ini menjadi tempat kesukaan para wisatawan bermain pasir atau menunggangi ombak di atas papan seluncur.

Kenyataannya, para peselancar Australia lah yang disebut oleh warga Sawarna sebagai kelompok yang pertama memajang pesona pesisir Sawarna di internet pada sekitar tahun 2002.

Sejak itu, para penantang ombak dari berbagai negara di Eropa juga berdatangan ke Sawarna. Nama Sawarna sebagai tujuan wisata, justru baru ramai diperbincangkan di dalam negeri pada tahun 2012. Indikatornya ialah menjamurnya bisnis pariwisata di Sawarna mulai tahun 2012.

Infrastruktur Sawarna

Perjalanan menuju Desa Sawarna dapat dilakukan dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Jika Anda mengguakaan kendaraan pribadi, Anda bisa menuju arah Pantai Pelabuhan Ratu dan melanjutkan perjalanan ke arah barat.

Jika Anda menggunakan kendaraan umum, kendaraan umum menuju Desa Sawarna dapat Anda jumpai dari terminal bus Peabuhan Ratu. Ada angkutan kota yang akan mengantarkan Anda hingga tepat di pintu masuk kawasan wisata Desa Sawarna.

Jangan mengkhawatirkan tempat penginapan. Ada beberapa penginapan berupa cottage yang disewakan bag ipara wisatawan. Pilihan lainnya adalah penginapan berupa homestay yang akan banyak Anda lalui ketika Anda menembus Desa Sawarna menuju Pantai Ciantir. Banyak sekali. Jika Anda tidak berkunjung ke Desa Sawarna pada masa libur panjang, saya rasa Anda tidak akan kehabisan tempat menginap.

Teks dan foto oleh Iyos Kusuma.