Punya Jiwa Pemberani? Jajal Rock Climbing Ini Bro!

Dilihat 1319 kali

“Ini pengalaman pertama gua.” kata Ipan dengan wajah lebih pucat dari biasanya. Meski bukan yang pertama kali, tapi menatap tebing vertikal dengan ketinggian 125 meter di depan muka ini cukup bikin nyali gua bergetar hebat.

Siapa sangka, sebelah barat kota Bandung, tepatnya di Padalarang, Desa Citath, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, terdapat kawasan karst yang bisa jadi alternatif wisata ekstrim di akhir pekan. Sangat mudah untuk dijangkau baik dari Jakarta maupun dari Kota Bandung. Meski bukan pilihan utama saat ingin bertualang, tapi cukup tepat untuk jadi pelampiasan di tengah musim yang lagi gak menentu kayak gini.

Ternyata, ada tiga tebing yang diberi nama sesuai dengan ketinggiannya, yaitu Citatah 48, Citatah 90 dan Citatah 125. Tapi, tebing Citatah 125 ini paling banyak di jadikan pilihan bagi pemanjat tebing dibandingkan yang lain, meski, gua harus sering-sering menyebut nama Tuhan demi membuat lutut yang gemetar tiada henti ini diam.

“Jadi a, nanti kita naik dulu nih ke 30 meter, lanjut ke 75, 90, baru sampai ke puncaknya di 125 meter.” jelas Kang Tatan, guide gua, Ardhi, dan Ipan, teman melakukan rock-climbing kali ini.

Menggunakan guide atau organizer seperti ini jauh lebih memudahkan kami yang masih pemula ini untuk mendapatkan izin, serta memperoleh semua peralatan lengkap panjat tebing, mengingat aktivitas yang dilakukan cukup ekstrim. 

Setelah harness terpasang di badan, Kang Tatan, dan seorang kru-nya mengajak kami langsung bersiap memanjat tebing vertikal yang sering dijadikan lokasi untuk sekolah panjat tebing oleh komunitas pecinta alam maupun yayasan panjat tebing sendiri. Dengan tipe batuan andesit, banyak lubang-lubang di bebatuan yang bisa dijangkau bebas oleh tangan. Meski ada beberapa plate hangers yang juga bisa dijadikan pijakan sementara.

Tebing vertikal setinggi 30 meter dapat dipanjat cukup mudah, meski harus bergantian dengan para anggota mahasiswa pecinta alam yang sedang melakukan pendidikan. Setelah berakhir, kami harus memanjat jalur gua yang cukup sempit dan ekstrim.

Meski terlihat mudah dan banyak pijakan, ternyata jalur gua lebih vertikal dari yang diperkirakan. Gua cukup lama termenung memikirkan harus kemana melangkah. Memang, jam terbang itu sangat mempengaruhi kegiatan ekstrim seperti ini. Saat Kang Tatan dan Krunya dengan mudah memanjat, gua, Ardhi, dan Ipan sempat ingin menyerah.

“Asli, gua tadi mikir, apa gua turun aja gak usah lanjut. Lemes banget gak ngerti harus lewat mana.” kata Ipan setelah berhasil melewati jalur paling vertikal di dalam gua. Didukung dengan wajahnya yang semakin pucat.

Bergerak terus ke atas, ternyata tak semua jalur perlu dipanjat, ada beberapa bonus yang mirip dengan pendakian gunung. Seperti jalan setapak kecil lurus mendaki, hingga jalur penuh dengan semak belukar.

“Itu carabiner jangan dilepas, tetep dicantelin tali aja.” seru Kang Tatan mengingatkan kami.

Akhirnya, sampailah kami di tebing paling vertikal dan membuat ujung kepala hingga ujung kaki berdesir saking ngerinya. Merasa bukan pengalaman pertama melakukan panjat tebing, gua mempersilakan Ardhi dan Ipan memanjat lebih dulu.

Ada satu spot yang entah mengapa membuat Ardhi dan Ipan begitu kesulitan menentukan pijatan dan ragu untuk terus memanjat, padahal kalau dilihat dari bawah, sepertinya mudah saja dijalani.

Sempat meremehkan, saat giliran gua manjat, ternyata lebih dari sekedar ekstrim. Dalam pandangan seorang pemula, gua seringkali merasa hopeless saat harus mengandalkan kekuatan tangan yang menggenggam bebatuan tajam sedangkan kaki harus mencari pijakan. Angin menerpa, hujan yang tiba-tiba turun juga menyiutkan nyali yang cukup besar tadi.

Apalagi, saat sampai ke spot dimana Ardhi dan Ipan kebingungan, ternyata gua juga ikut kebingungan. Kalau ambil terlalu kanan, jurang tanpa batas, ambil terlalu kiri, juga sama. Bahkan gua gak bisa menemukan satu pun bebatuan yang bisa dijangkau kecuali sedikit melompat dan pasrah akan apa yang terjadi selanjutnya. Berada di tebing vertikal dengan ketinggian sekitar 100 meter ini, seharusnya membuat gua gak berani menatap sekeliling apalagi mengintip daratan. Sayangnya, semua terlihat jelas saat gua harus mencari pijakan. Gua berpikir, kalau sampai jatuh, tubuh gak akan ada bedanya dengan rempeyek. Gua sangat ingin menyerah, meski gua langsung sadar, menyerah atau tidak, gua harus tetap bergerak. Turun atau naik. Dengan ketinggian dan tebing vertikal yang sama. Sial, gua gak punya pilihan lain!

Beruntung, Kang Tatan dan Kernmantle rope membuat gua merasa agak aman dan berani membuat lompatan-lompatan kecil hingga mencapai puncak. Meski sesampainya puncak, lutut dan kaki gua gak bisa berhenti gemetar.

“Jadi, nanti kita turun gimana Kang?” tanya gua masih gak bisa menyembunyikan debaran jantung

“Ya lewat sini lagi, rappelling kita.”

“Damn!”

End.

Teks dan Foto: Acen Trisusanto