Serunya Main Sandboardng Sampai Guling-Guling

Dilihat 571 kali

Sejak pertama kali melihat sandboarding di televisi setahun yang lalu, saya langsung mencamkan niat mencobanya. Niat itu tiba-tiba muncul pada menit-menit terakhir saat memesan tiket pulang dari Labuan Bajo. Rencana awal ingin langsung ke Semarang, lalu beralih ke Jogja hanya untuk mencoba permainan ekstrim yang dimainkan di Gumuk Pasir Parangtritis.

“Main sandboarding” jawab saya mantap, ketika Okri, adik sepupu yang menjemput ke bandara menanyakan mau ngapain ke Jogja. Hari pertama di Jogja, setelah sarapan kami langsung meluncur ke Parangtritis. Setelah melewati satu setengah jam perjalanan dengan motor, kami berhenti di warung makan yang di depannya tertulis “Area parkir sandboarding”. Kami yang tidak tahu persis lokasinya, hanya berani menduga kalau ini benar lokasinya, setelah sebelumnya mengecek beberapa foto di Instagram. Ternyata benar.

Kami memesan kopi dan beristirahat di warung di sebelah gumuk pasir Parangkusumo, nama gumuk pasir tempat saya akan bermain. Selain gumuk pasir Parangkusumo, ada juga gumuk pasir Barchan yang menjadi tempat main sandboarding di daerah Parangtritis.

“Biasanya orang ramai main sandboarding jam berapa, mas?” tanya saya kepada penjaga warung.

 “Jam tiga ke atas biasanya, mas.” jawab pemilik warung setelah menghidangkan kopi untuk kami.

Jam di tangan menunjukkan pukul sebelas. Saya habiskan kopi yang mulai dingin di atas meja. Matahari hampir tegak lurus di atas kepala. Motor saya arahkan ke Selatan, ke pantai Parangtritis yang jaraknya cukup dekat. Agar menunggu tidak terasa membosankan, duduk santai di pantai dapat jadi solusinya.

Cerah mulai berganti dengan mendung di langit Parangtritis. Es kelapa muda yang manis karena kebanyakan gula, saya lunasi sebelum beranjak pergi.

“Ayo jalan. Nanti keburu hujan, nggak sempat main. Percuma jauh-jauh ke sini tapi batal main sandboarding” ajakan saya kepada Okri seperti menyimpan kecemasan.

“Lewat pesisir pantai ini aja, da. Gumuk pasir itu persis di ujung sana” Okri mengarahkan perjalanan.

 

Lima menit berikutnya saya sampai di sisi lain gumuk pasir Parangkusumo. Bagian ini adalah sisi yang dekat dengan pantai, sedangkan gumuk pasir sebelumnya berdekatan dengan jalan raya Jogja-Parangtritis. Di pohon dekat parkiran terpajang beberapa papan seluncur untuk disewakan. Hal yang menimbulkan gairah dalam pandangan saya.

“Mas, kalau mau sewa papan seluncur berapa?” tanya saya tanpa basa-basi kepada beberapa anak muda yang nongkrong di parkiran.

“Seratus ribu, mas. Sepuasnya”

“Bukannya tujuh lima (ribu), mas. Saya baca dari blog, segitu harganya”

“Itu main sendiri atau ditemani, mas?”

“Waduh, kalau itu sih saya nggak tahu. Bedanya apa, mas?”

“Kalau seratus, kami dampingi, dan ajari juga mainnya. Kalau tujuh lima, itu main sendiri”

Saya memilih menyewa papan dan didampingi. Permainan sandboarding tergolong ekstrim, sebaiknya didampingi oleh orang yang berpengalaman. Dua puluh lima ribu yang sangat berharga. Saya sadari selama dan setelah selesai bermain.

“Di sini ada beberapa trek, mas. Itu yang dekat menara pandang trek biasa, paling rendah, yang dekat ayunan itu yang landai, dan kalau mau yang tinggi di dekat jalan sana. Kita naik motor kalau mau ke sana” Bayu, guide yang menemani  saya memberikan pilihan lokasi bermain.

“Kita mulai dari yang rendah dulu, mas. Kalau udah bisa, ntar pindah ke yang paling tinggi”

Kami bertiga berjalan ke gundukan pasir dekat menara pandang. Bayu menggosokkan lilin ke bagian bawah papan seluncur.

“Biar licin, mas, biar enak mainnya” penjelasan Bayu. Lalu dia berdiri di atas papan dan mengeratkan tali yang mengikatkan kakinya ke papan seluncur.

“Posisi berdirinya sedikit membungkuk ya, mas” lutut Bayu membentuk sudut seratus lima puluh derajat, “biar mudah nyeimbanginnya.

Bayu meluncur dengan mulus, lalu kembali ke dekat kami.

“Sekarang giliran, mas” Bayu menyodorkan papan seluncur yang telah digosok lilin.

Saya berdiri dengan sedikit membungkuk. Papan meluncur dan saya berusaha menyeimbangkannya. “Byaaaaar...” tubuh saya menghantam pasir. Saya terjatuh ketika baru melewati setengah lintasan.

“Coba lagi, mas. Biasa, kok, jatuh dipercobaan pertama” Bayu menyemangati

Saya kembali meluncur. Kali kedua saya jatuh di ujung lintasan.

“Kalau nggak pakai lilin dulu gimana, mas? tanya saya kepada Bayu.

 “Bisa aja, mas. Cuma jalannya jadi pelan”

Kali ketiga meluncur, papan yang saya gunakan tidak diolesi lilin. Perkataan Bayu sebelumnya terbukti.

“Kalau pelan gini, jadi nggak berasa sensasinya, mas” keluh saya kepada Bayu.

Berikutnya saya meluncur dengan mulus di atas papan yang selalu diolesi lilin. Jatuh ataupun tidak, saya kembali ke puncuk gumuk pasir dengan berlari. Penuh semangat.

“Mas, pindah ke tempat yang lebih tinggi dong” ada semangat yang menggelora dalam kata-kata saya.

“Ayo, mas. Kita ke pinggir jalan sana”

Gumuk pasir yang dipinggir jalan memiliki kemiringan sekitar enam puluh hingga tujuh puluh derajat, dengan ketinggian sepuluh hingga lima belas meter. Ada dua lintasan utama, yaitu mulai dari puncak gumuk pasir sisi Barat dan puncak sisi Timur yang paling tinggi. Bagian akhir dari kedua lintasan ini sama, yaitu bagian lembah di antara kedua puncak gumuk pasir. Bagian yang paling tinggi kami simpan untuk sesi terakhir.

Pertama kali meluncur dari puncak Barat, adrenalin saya langsung naik. Laju  papan seluncur dua kali lipat dari laju di lintasan sebelumnya, begitupun durasi meluncurnya. Saya sangat menikmati momen berdiri di atas papan yang melaju kencang ke bawah. Jatuh dan terguling-guling menjadi hal yang biasa. Saya mencoba mempercepat langkah untuk kembali ke puncak dan meluncur lagi. Lilin digosokkan. Ancang-ancang dipasang. Papan meluncur. Kencang. Semakin kencang. Jatuh. Terguling-guling di pasir. Berteriak lepas sebagai ekspresi puas. Keseruan lebih terasa di sini daripada di lintasan sebelumnya, begitupun capeknya.

“Mas, boleh pinjam papannya?” saya melihat papan seluncur Bayu lebih tipis.

“Boleh, mas”

“Ini larinya lebih kencang, ya?”

“Iya, mas. Hati-hati ya”

Perkataan Bayu kembali terbukti. Papan meluncur lebih kencang. Saya terjatuh di ujung lintasan. Pasir menempel di tubuh yang penuh keringat. Saya bangkit dan kembali ke puncak untuk meluncur lagi.

 

“Mas mau mencoba lintasan yang paling tinggi, nggak?” tawaran Bayu sambil menunjuk puncak di sisi Timur.

“Mau, mas. Tapi dampingi dulu ya”

“Tentu, mas. Saya dampingi”.

Kami berdua mendaki gumuk pasir setinggi lima belas meter. Selain lebih tinggi, lebih miring, lintasan ini juga memiliki tikungan di tengahnya. Keseruan tiga kali lipat dari lintasan sebelumnya. Berkali-kali saya meluncur dari lintasan ini. Mulai dari didampingi Bayu, hingga main sendiri. Setelah itu saya menemui Bayu dan mengembalikan papannya.

“Udah bosan, mas?” tanya Bayu.

“Nggak, mas. Puas banget malah, tapi capek”

Kami tertawa beriringan.

“Mas bagus mainnya. Cepat bisanya” Bayu melemparkan pujiannya, “ada orang yang udah bosan saat dia belum bisa mainnya, kan sayang”

“Mungkin bosan karena capek, mas” saya menimpali, “yang paling dibutuhkan buat main sandboarding ini apa, mas?”

“Jangan takut mencoba, kalau jatuh, bangkit, dan coba lagi” pesan Bayu yang bisa dijadikan panduan bagi siapapun yang ingin main sandboarding.

Langit berubah keunguan. Saya membersihkan badan dan bersiap pulang ke Jogja. Diakhir pertemuan kami, Bayu mengatakan sesuatu yang membuat saya ingin kembali lagi ke sana.

“Kalau ramai-ramai mainnya lebih seru, mas. Kalau mas datang ke sini lagi, tak kasih diskon.”

Teks Dan Foto : Guri Ridola