Berkat Kopi, Kolonialisme Berjaya, Bumi Priangan Tak Berdaya

Dilihat 353 kali

Siapa yang nggak kenal dengan daerah yang satu ini, berada di dataran tinggi dengan udara sejuknya selalu menjadi pesona tersendiri buat banyak orang. Perkebunan, pertanian, dan peternakan di wilayah ini selalu menjadi yang nomor satu dikarenakan faktor geologisnya yang sangat mendukung. Ya, apa lagi kalau bukan Jawa Barat (Khususnya wilayah Bogor, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Subang, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon, Kuningan) bro, alias Priangan.

Peta Priangan periode 1811-1864. Source

Sejak runtuhnya Kerajaan Sunda pada tahun 1579 hingga berjayanya Kolonialisme Belanda, daerah ini adalah lahan yang sangat subur. Bahkan kopi yang ditanam di daerah ini membawa keuntungan dan kemakmuran besar pada kas Belanda yang berada di bawah payung kongsi dagangnya yaitu VOC.

Simak bro, ulasan ringan padat maknanya.

Etimologi Priangan

Sebetulnya nama Priangan itu sendiri memiliki makna tempat para rahyang atau hyang. Masyarakat Sunda kuno selalu percaya bahwa roh leluhur atau para dewa menghuni tempat-tempat luhur yang tinggi, wilayah pegunungan dianggap sebagai tempat hyang bersemayam.

Priangan kemudian beralih menjadi Parahyangan, dan Belanda menyebutnya dengan nama Preanger. Wilayah Priangan sendiri meliputi wilayah pegunungan-pegunungan di Jawa Barat. 

Lukisan Priangan karya Abdullah Suriosubroto; 1935. Source

Sejak zaman Kerajaan Sunda, wilayah jajaran pegunungan yang berada di sentral Jawa Barat ini dianggap kawasan suci. Menurut legenda Sunda, bumi Priangan tercipta ketika para dewa sedang bahagia lalu mencurahkan berkahnya. Analogi ini memiliki makna keindahan dan kecantikan serta kesuburan alam Tanah Sunda yang makmur.

Wilayah Geografis Priangan

Priangan memiliki ketinggian di antara 1.800 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini sangat subur sebab dikelilingi daerah pegunungan vulkanik.

Gunung-gunung berapi tersebut antara lain Gunung Gede-Pangrango (Cianjur-Sukabumi-Bogor), Gunung Galunggung (Tasikmalaya), Gunung Papandayan - Gunung Guntur - Gunung Cikuray (Garut), Gunung Ciremai (Cirebon-Kuningan), dan Gunung Tangkubanperahu (Bandung-Subang).

Ilustrasi tanam paksa kopi di Priangan. Source

Daerah-daerah ini masih menjadi perkebunan kopi aktif hingga detik ini. 

Sistem Tanam Paksa Kopi (Preangerstelsel)

Dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa : Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720 - 1870, Jan Breman selaku penulis menguraikan secara rinci tentang keuntungan Belanda berkat kopi yang ditanam di Jawa, khususnya di wilayah Priangan.

Buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa : Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720 - 1870, Jan Breman. Source

Khusus di wilayah Priangan, penanaman kopi mulai tersebar luas pada tahun 1720 seiring dengan diperkenalkannya Preangerstelsel (Sistem tanam paksa kopi bagi rakyat pribumi) yang hasilnya disetorkan kepada VOC. Komoditi kopi di masa lampau memiliki keterkaitan dengan kondisi sosial masyarakat di Priangan.

Petani kopi Priangan memisahkan kulit dengan biji kopi dengan mulutnya. Source

Karena permintaan kopi di Eropa semakin meningkat sejak abad ke-17, VOC menciptakan sistem tanam paksa kopi di Priangan dengan nama Preangerstelsel.

Diambil dari Buku "Auf Java und Sumatra. Streifzüge und Forschungsreisen im Lande der Malaien"; Karl Friedrich Georg Giesenhagen, 1902. Source

Setelah sebelumnya VOC menjadi pemain utama sebagai distributor kopi utama di Eropa, akhirnya pailit pada tahun 1799 kemudian seluruh asetnya dialihkan kepada pemerintahan Belanda.

Revolusi Prancis; Jalan Raya Pos Daendels dan Kopi

Pada awal abad ke-19 belanda berada di dalam genggaman Kekaisaran Prancis Raya alias dijajah, meskipun demikian Belanda tetap negara merdeka. Di bawah pimpinan Napoleon, Hindia Belanda (Nama Indonesia kala itu) terkena efeknya.

Peta Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan; 1808-1811. Source

Adalah Herman Willem Daendels yang diangkat oleh Kekaisaran Prancis menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Lewat proyek "Genosida" terbesar pada waktu itu, yaitu Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan, akses ke Priangan semakin bebas.

Herman Willem Daendels. Source

Lewat proyek ini, tercetuslah Cuulturstelsel yang diadopsi dari Preangerstelsel. Tidak jauh berbeda, namun Cuulturstelsel menjadi era yang paling eksploitatif pada praktik sosial ekonomi Hindia Belanda. Petani diperas keringatnya tanpa upah dan tunjangan apapun, petani tewas kelelahan adalah hal yang lumrah pada era itu.

Komoditas kopi, tembakau, tebu, dan teh memiliki permintaan yang sangat besar di pasar dunia. Untuk kopi sendiri, wilayah Priangan memainkan peran yang sangat penting untuk keuntungan.

1826-1825; Periode Perusakan Ekologi di Tanah Jawa

Cuulturstelsel berdampak pada ekologi tanah Jawa, berdasarkan ulasan sejarawan Peter Boomgard.

Ilustrasi pembabatan hutan di Priangan. Source

Berhektar-hektar hutan dibabat untuk penanaman kopi. Kutipan penderitaan di balik pembabatan hutan waktu itu ditulis pada sebuah cerita dalam bahasa Sunda, Ua Haji Dul Hamid berjudul Zaman Cacing Dua Saduit dari pengarang asal Rancah, Ciamis, yaitu Ahmad Bakri (1979-1988) yang berbunyi:

"Leuweung geledegan dikebonan kopi, kabéh dieunakeun dilemburan. Dina usum ngabukbah cenah kacida ripuhna mah somah téh. Gawé beurat, dirurusuh bari ditungguan ku polotot jeung tajong. Réa nu tingkelepek cenah. Nu kapiuhan téa, kasurupan téa, da puguh tegal jurig meureun. Leweung tutupan kitu atuh. Babakuna mah awahing ku cape, ari beuteung remen kosong nu kurang bekel mah. Puguh deui ari nu dipacok oray mah, lain hiji dua. Nu Teu katulungan gé teu saeutik."

Ilustrasi pembabatan hutan di Priangan. Source

Dalam Bahasa Indonesia, artinya : "Hutan belantara dijadikan kebun kopi, semua dibuat pemukiman. Saat musim membuka lahan adalah hal yang paling menyiksa. Pekerjaan benar-benar berat, harus dipercepat karena dimandori dengan pelototan dan tendangan. Banyak yang pingsan. Ada yang tak sadarkan diri, yang kesurupan juga, karena memang yang dibabat mungkin habitatnya setan. Hutan rimba begitu. Alasan utama sebenarnya karena kelelahan, ditambah perut kosong karena kurang bekal. Ada lagi yang digigit ular, bukan satu dua. Banyak yang tidak selamat."

Biar pun lo seorang petualang, tapi harus ingat sejarah bro. Bahwa sebenarnya di tempat-tempat dimana kita berpetualang, pasti ada sepenggal kisah, termasuk di wilayah Priangan dengan kopi dan cerita pilu dibaliknya pada masa lampau. Semoga bermanfaat, bro!

Sumber

Featured Image