Korelasi Taraf Hidup Petani Kopi Dengan Komoditas Kopi Indonesia

Dilihat 177 kali

Seperti yang kita ketahui bro, bahwa kopi Indonesia telah dikenal seantero dunia sebagai salah satu negara penghasil kopi terbaik di dunia, kopi asli Indonesia telah diekspor pada beberapa negara-negara di dunia.

Nggak jarang kita temui kedai-kedai kopi lokal yang terkesan mewah dengan interior-nya yang mahal. Tapi ternyata kedai kopi tersebut nggak bakal eksis dimana-mana kalau petani kopi nggak ada.

Ilustrasi kedai kopi lokal di Yogyakarta; Kedai Kopi Mataram. Source

Nah tanah Indonesia yang subur sangat memungkinkan untuk tumbuhnya berbagai macam komoditi tak terkecuali kopi. Robusta dan Arabica banyak tumbuh dengan baik di Indonesia, namun mayoritas jenis Arabica lah yang banyak ditanam di Nusantara. Menanam kopi jenis ini sangat menjanjikan mengingat harga di pasar dunia untuk komoditi kopi sangat tinggi. 

Taraf Hidup Petani Kopi

Terkait dengan tenarnya nama kopi Indonesia di dunia internasional, ada sekelompok orang yang kehadirannya tak kunjung sejahtera, padahal jasanya sangat besar untuk komoditas kopi ini. Tak lain dan tak bukan, sekelompok orang itu adalah petani kopi.

Ilustrasi penjemuran biji kopi di Temanggung, Jawa Tengah dengan latar belakang Gunung Sumbing. Source

Nasib para petani kopi berbanding terbalik dengan kenyataan tentang komoditas kopi di dalam maupun luar negeri. Mereka belum dapat menikmati nikmatnya kenaikan harga komoditi yang mereka tanam sendiri. Kenikmatan kopi yang ditanam tak senikmat kehidupan mereka. Atau mungkin malah kehidupan mereka yang lebih pahit dari pada pahitnya kopi tanpa gula yang mereka tanam.

Petani Buta Harga Kopi

Masih banyak petani kopi lokal yang tidak mengetahui harga jual kopi di pasaran. Sementara para petani kopi lokal seyogyanya harus mengetahui harga kopi di pasaran supaya memiliki nilai jual yang tinggi agar dapat sejahtera. 

Ilustrasi buah kopi (Coffee Cherries). Source

Petani juga sebaiknya mengetahui rasio yang dihasilkan dalam pemrosesan buah kopi (Coffee Cherries) menjadi biji kopi mentah adalah 7 banding 1. Setiap 7 KG buah kopi dapat menghasilkan 1 KG biji kopi mentah. Harga buah (Coffee Cherries) dan biji kopi yang dijual masih tergolong rendah.

Ilustrasi pemrosesan buah kopi metode "Washed Process". Source

Hal-hal seperti itu masih jarang diketahui oleh para petani kopi, padahal hal tersebut sangat penting untuk membantu kehidupan sejahtera petani itu sendiri.

Harapan Kecil Para Petani Kopi

Para petani kopi seperti yang kita ketahui adalah orang-orang yang tinggal jauh dari hiruk pikuk perkotaan, yang besar kemungkinannya jauh dari informasi terkini tentang komoditas kopi itu sendiri. Petani kopi berharap adanya peningkatan kualitas hasil tanam dan fasilitas pertanian lebih gencar lagi, baik dari pemerintah maupun sektor swasta.

Ilustrasi petani kopi. Source

Bermacam-macam transparansi informasi dan workshop tentang industri dan perekonomian kopi pun diharapkan gencar dilakukan mengingat hal tersebut adalah salah satu cara untuk dapat mensejahterakan para petani kopi lokal.

Beribu langkah dan upaya harus terus di lakukan untuk menaikkan taraf hidup para petani kopi ke arah yang lebih baik.

Ya, biar bagaimana pun sektor industri kopi yang telah menjamur dan menjadi gaya hidup di banyak kota-kota besar di Indonesia harus pula memperhatikan para petani kita yang menjadi akar dari segala komoditas kopi. 

Ilustrasi petani kopi sedang memanen. Source

Kalau petani lokal kita tak kunjung sejahtera, siapa yang mau turun lagi ke kebun untuk menggarap kebun kopi? Sementara dari segi pola pikir, keturunan-keturunan para petani kopi kemungkinan besar akan berpikir; "Untuk apa bertani lagi? Dari tahun ke tahun tidak ada kemajuan, harganya tidak pernah naik, kehidupan kami gini-gini aja. Lebih baik cari kerja yang lebih menjanjikan."

Komoditas kopi Indonesia dengan taraf hidup petani kopi di Indonesia masih mengalami ketimpangan melihat fakta dan realita yang ada di tengah-tengah kita. 

Featured Image

Sumber