Menyusur Meti Kering di Pulau Wetar

Dilihat 450 kali

Banyak teman-temanku yang selalu bertanya, dimana sih letak Pulau Wetar? Pertanyaan itu selalu muncul ketika kami sedang membicarakan sebuah destinasi wisata extreme yang masih sangat jarang dikunjungi oleh banyak orang. Yah, aku sendiri masih belum percaya bahwa aku sudah memasuki lokasi yang bisa dibilang remote area tersebut. Bukan perkara mudah bagi wisatawan domestic untuk masuk ke wilayah ini. Pulau Wetar sendiri lokasinya berada di wilayah Maluku Barat Daya. Untuk bisa masuk ke pulau ini, aku harus menaiki kapal perintis tujuan Kupang – Ambon yang berlayar sekitar 48 jam. Kapal perintis adalah sarana transportasi satu-satunya yang mengantarkan ku ke pulau tersebut. Jadi, jangan samakan lokasi wisata ini dengan lokasi-lokasi lain yang memang aksesnya sudah sangat mudah dan murah untuk dikunjungi.

Dalam cerita ini, aku akan menceritakan bagaimana sulitnya akses transportasi di Pulau ini, serta bagaimana extreemnya perjalanan menyusuri dasar terbing curam untuk masuk ke dalam permukiman masyarakat. Pulau Wetar benar-benar masih memiliki panorama alam yang sangat alami. Hutan masih menutupi hampir semua wilayah daratannya. Tidak adanya jalan untuk kendaraan mangharuskannku untuk berjalan kaki kemanapun aku akan pergi. Jalanan di Pulau ini masih berupa jalan setapak. Akses antar permukiman wargannya masih terisolasi oleh keberadaan hutan yang masih rimbun.

Hari itu adalah hari senin. Aku berencana untuk mengirim laporan bulanan yang memang sudah dinanti oleh kantorku di Jakarta. Karena di Pulau ini juga masih belum tersedia sarana telekomunikasi, otomatis aku harus bergegas menuju pulau terdekat yang memikili jaringan komunikasi. Jadwal kedatangan kapal perintis ke pulau ini adalah 2 minggu satu kali, artinya aku harus menunggu sampai 2 minggu untuk bisa keluar dari pulau ini, dan melakukan komunikasi dengan dunia luar.

Teman yang biasa mengantarkanku menuju desa kecamantan sudah siap pagi itu. Memang sebelumnya aku sudah berjanji untuk melakukan perjalanan kaki pagi hari agar tidak sampai terlalu sore di desa kecamatan. Aku menuju desa kecamatan karena esok harinya merupakan jadwal kapal perintis datang ke pulau tersebut, dan desa kecamatan merupakan meeting point dimana kapal perintis tersebut akan berlabuh. Sambil sarapan dan minum kopi panas, kami mulai merencanakan rute perjalanan yang lumayan melelahkan tersebut. Semua persiapan sudah kami rapikan, tas sudah siap untuk aku gendong selama perjalanan. Aku memastikan kembali agar tidak ada satu barangpun yang tertinggal di pulau ini.

Setelah pamit kepada pemilik rumah, kamipun berjalan kaki meninggalkan desa. Perjalananan kami dimulai dengan memasuki kawasan hutan sebagai akses keluar desa. Jalanan yang licin dan menanjak harus aku lalui. Jalanan ini dibuat tepat di pinggir jurang, sehingga apabila lengah sedikit, kita bisa jatuh langsung ke dasar jurang. Ditambah banyaknya pasir halus yang membuat perjalanan sedikit terhambat karena kita harus extra hati-hati. Jalanan setapak ini banar-banar membuat siapa saja yang melintasinya harus waspada. Masyarakat sekitar menyebutnya jalur kuda. Sebutan ini taklain karena biasanya hanya seekor kuda saja yang dapat melintasinya.

Selama perjalanan, teman yang mengantarkanku memiliki ide untuk mengambil jalur bawah. Artinya adalah kita turun ke pantai, kemudian berjalan menyusuri pantai tersebut. Menurutnya dengan menggunakan jalur tersebut, otomatis akan memotong waktu perjalanan sekitar 2 jam. Ide yang sangat bagus menurutku. Dan akhirnya akupun setuju dengan usulannya.

Menggunakan jalur pantai berarti menggunakan jalur meti. Meti adalah sebutan untuk sebagian wilayah bebatuan pantai yang kering akibat air laut sedang surut. Itu artinya aku masih bisa berjalan melintasi beberapa tebing terjal yang tidak tergenangi oleh air laut. Kamipun pada akhirnya mengambil jalur turun menuju pantai. Pasir putih membuat siapa saja betah untuk berlama-lama bermain di pantai. Tak terkecuali dengan kami. Asiknya bermain dan beristirahat membuat kami lupa bahwa waktu air laut untuk pasang terus bergerak. Karena keasikan bermain, kami tidak menyadari bahwa air laut semakin meninggi.

Kamipun segera bergerak meyusuri pinggiran tebing yang masih belum tergenang oleh air laut. Aku mengira, bahwa menggunakan jalan meti akan lebih gampang, nyatanya tidak sama sekali. Batuan karang yang terkikis oleh gelombang laut menyisakan permukaan yang tajam, sehingga kami harus berhati-hati agar untuk memilih pijakan. Salah sedikit, kaki menjadi taruhannya. Hal ini juga yang menjadikan perjalanan kami banyak terhambat. Dengan estimasi kami akan menotoh jarak tempuh sekitar 2 jam, justru malah sebaliknya. Perjalanan kami menjadi sangat lambat dan terus dihantui oleh pasangnya air laut.

Sudah sekitar 2 jam kami berjalan di jalur meti. Dan kami sedang berada tepat di tengah-tengah tebing terjal pulau wetar, yang artinya tidak ada jalan lain untuk keluar dari jalur meti ini. Tidak ada jalan naik ke permukaan. Hari semakin gelap, dan air laut semakin pasang. Aku benar-banar was was dengan kondisi ini. air sudah setinggi pinggang ku. Celana yang aku pakai sudah basah, baju pun mulai basah. Tas yang tadinya aku gendong, sekarang berubah aku angkat di atas kepalaku. Semua barang elektronik yang aku bawa, leptop, handphone, kamera, semua aku masukan ke dalam drybag dan aku kunci rapat.

Gelombang laut yang mulai menghempas ek tebing-tebing karang mulai membesar dan membuat perjalanan semakin terganggu. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain berdoa agar secepatnya bisa menemukan jalan naik ke permukaan pulau. Mencoba untuk berjalan secepatmungkin juga menjadi satu-satunya yang harus kami lakukan saat ini. apabila tidak, maka berenang menjadi satu-satunya jalan terakhir yang harus kami tempuh dan itu sangat tidak disarankan.

Beberapa meter kemudian, temanku melihat ada sebuah tebing landai yang sangat mungkun untuk kami panjat agar segera keluar dari jalur meti tersebut. Tanpa pikir panjang, kamipun segera menaiki terbing tersebut. Runcingnya permukaan tebing sudah tidak kami hiraukan. Yang penting bisa keluar dari jalur meti merupakan anugrah yang benar-benar sangat aku syukuri. Dan benar saja, keputusan untuk menaiki tebing tersebut adalah keputusan yang sangat tepat. Setelah beristirahat sejenak, gelombang air pasang dengan jelas bisa aku lihat dari atas permukaan pulau tersebut.

Dan ini adalah pengalaman pertama dan terakhir bagiku untuk berjalan meyusuri meti kering. Apapun alasannya, aku tidak mau lagi ikut apabila ada orang yang mengajakku berjalan di meti..